Senin, 22 Oktober 2018

PENGENALAN BUDIDAYA UDANG GALAH


 Jenis udang air tawar yang satu ini (udang galah) memang memiliki potensi yang cukup besar, sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat. Terbukti dari permintaan udang galah baik dalam negeri maupun dari luar negeri yang semakin meningkat. Udang galah adalah salah satu komoditas air tawar yang cukup bagus masa depannya karena selain harga jualnya lebih tinggi dibanding ikan air tawar lainnya juga dapat dipasarkan untuk kebutuhan dalam dan luar negeri, hal ini ditandai dengan permintaan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang dan beberapa negara di Eropa. Dengan kata lain udang galah mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berpotensi memperoleh keuntungan jika dikembangkan. Budidaya udang galah bisa dilakukan di kolam ataupun tambak darat. Saat ini kegiatan pembesaran udang galah sudah meluas keberbagai daerah, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan/usaha budidaya maka dibutuhkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha yang dimiliki oleh pembudidaya. Tahapan memulai budidaya udang galah adalah: 1. LOKASI BUDIDAYA Perencanaan pembangunan wadah budidaya harus memenuhi persyaratan antara lain; kawasan bebas banjir dan pencemaran, jenis tanah liat berpasir, kolam dibuat pada ketinggian 0-700 meter dpl. Air tersedia sepanjang tahun, bebas polusi, sirkulasi air harus bagus, bebas pencemaran, bebas polusi. Debit air yang dianjurkan 0,5-1 liter per detik untuk luasan kolam 300-1.000 m2. 2. BAHAN DAN ALAT Seperti budidaya di kolam pada umumnya, peralatan yang umum digunakan antara lain; alat pengangkut benih, serok, ember, seser, timbangan, Ayakan halus dari kain, cangkul. 3. PENGELOLAAN AIR Sirkulasi air yang baik memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembesaran udang galah. Sebaiknya air dikolam harus mengalir. Untuk kolam pemeliharaan dengan media yang tidak mengalir kualitas air cenderung menurun setelah satu bulan masa pemeliharaan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan penggantian air sebanyak 30-50% dengan air yang baru. C, dengan pH 6,5-8,5. Oksigen°Suhu optimum yang diperlukan adalah 28-30 terlarut minimal adalah 4 ppm, diperlukan juga Ca minimal 52 ppm dan salinitas 0-5 ppt. 4. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT Adanya hama dan penyakit ditentukan dengan pemeriksaan yang dilakukan secara visual terhadap organisme pengganggu baik yang bersifat predator maupun kompetitor. Hama yang sering mengganggu dikolam pemeliharaan adalah ikan-ikan liar yang masuk tanpa sengaja seperti ikan gabus, lele dan lain-lain. Untuk mencegah masuknya hama pemangsa tersebut perlu dibuat saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air kolam berupa hapa yang terbuat dari jaring dengan mesh size 0,2 mm. Dalam proses pembesaran diperlukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebagai berikut : Pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dilakukan secara acak dengan jumlah udang sesuai dengan kebutuhan untuk pengamatan visual maupun mikroskopik. Pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) . Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad pathogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium. Penyakit yang sering menyerang adalah udang berlumut yang disebabkan kedalaman air di kolam kurang memadai dengan sirkulasi yang kurang baik, untuk mengatasi masalah dengan sirkulasi air bisa dipasang kincir angin. 5. MASA PANEN UDANG GALAH Udang galah dapat dipanen setelah 4 bulan, 6 bulan, atau bahkan lebih, sesuai dengan ukuran udang yang dibutuhkan oleh konsumem. Biasanya udang galah dapat mulai dijual setelah mencapai ukuran 20 – 25 gram/ekor, tetapi semakin besar ukuran udang harganya juga semakin mahal. Demikian beberapa tekis praktis budidaya udang galah, tahapan budidaya udang galah, serta gambaran keuntungan dari budidaya udang galah. Semoga dapat menginspirasi dan bermanfaat. 

Sumber: Mina S., 2016. Cara Praktis Budidaya Udang Galah. Didownload dari laman http://www.bibitikan.net/cara-praktis-budidaya-udang-galah-yang-menguntungkan/

Rabu, 10 Oktober 2018

Culture Based Fisheries (CBF) Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus)

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi
Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) adalah ikan ekonomis penting di perairan tawar yang dapat dijadikan komoditas pangan baik untuk keperluan domestik maupun ekspor. Pulau Jawa memiliki perairan waduk sekitar 90 persen dari luas total waduk di Indonesia. Populasi ikan asli di perairan waduk yang berasal dari sungai yang dibendungnya pada umumnya akan mengalami penurunan pada beberapa tahun setelah waduk terbentuk karena ikan asli sungai di habitat mengalir tidak dapat beradaptasi dengan habitat baru yang berupa perairan tergenang (waduk). Salah satu jenis ikan asli yang hilang dari Waduk Gajahmungkur adalah ikan patin jambal (Pangasius djambal) karena jalur ruaya ikan ini ke habitat pemijahannya terputus oleh pembendungan sungai Bengawan Solo. Oleh karena itu, peningkatan produksi ikan di waduk dapat dilakukan melalui penerapan teknologi Culture Based Fisheries (CBF) yang tepat. Tujuan penerapan teknologi CBF ikan patin siam ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikan di suatu badan air dengan cara memanfaatkan sumber daya makanan alami dan habitat (niche ecology) yang masih kosong. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi ikan ini akan bermanfaat dalam rangka meningkatkan p e n d a p a t a n d a n kesejahteraan masyarakat nelayan dan masyarakat selingkar di badan air
Gambar 1. Ikan Patin Siam tersebut.
Pengertian - Definisi Culture Based Fisheries (CBF) atau Perikanan Tangkap Berbasis Budidaya adalah kegiatan perikanan tangkap dimana ikan hasil tangkapan berasal dari benih ikan hasil budidaya yang ditebarkan ke dalam badan air, dan benih ikan yang ditebarkan akan tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia. Penebaran benih ikan umumnya dilakukan secara rutin karena ikan hanya tumbuh dan tidak diharapkan berkembang biak. Oleh karena itu, ketersediaan benih ikan patin siam dari hasil pembenihan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan CBF. CBF ikan patin siam di Waduk Gajahmungkur mempunyai karakteristik tersendiri karena ikan patin yang ditebarkan selain tumbuh pesat dengan memanfaatkan makanan alami juga dapat berkembang biak di muara Sungai Keduwang dan Tirtomoyo yang masuk waduk karena menggantikan peran ikan patin jambal yang hilang.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persaratan Teknis Penerapan Teknologi CBF
(1) Badan air yang akan digunakan untuk penerapan CBF ikan patin siam harus memiliki: kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan patin; sumber daya makanan alami yang berupa plankton, benthos, detritus; potensi produksi ikan yang tinggi (minimal 200 kg/ha/th); volume air tersedia sepanjang tahun, kedalaman air ratarata minimal 2 meter.
(2) Benih ikan patin siam yang akan ditebarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: kualitas dan kuantitasnya memadai (karena ada pembenih yang menghasilkan benih patin dengan pertumbuhan lambat, jumlahnya tersedia untuk penebaran dengan kepadatan antara 100-200 ekor/ha tergantung pada sumberdaya makanan alami yang tersedia); dapat memanfaatkan sumber daya makanan alami yang tersedia; dan tidak bersifat invasif (tidak berdampak negatif) terhadap jenis ikan asli.
(3) Pembenihan ikan patin siam tersedia dengan jarak tempuh yang relatif dekat dengan badan air yang akan ditebari dan telah berproduksi secara reguler serta menghasilkan benih dengan kualitas baik bebas dari hama dan penyakit. Jika pembenihan ikan patin belum tersedia maka perlu dibangun di sekitar lokasi badan air yang akan ditebari.
(4) Hasil tangkapan ikan di badan air yang akan ditebari masih rendah jauh di bawah potensi produksi ikan lestarinya; alat tangkap yang digunakan (gill net) untuk menangkap ikan patin ukuran konsumsi (>500 gram) berukuran mata jaring > 3,5 inci.
(5) Kelompok nelayan sebagai unsur pengelola perikanan utama sudah ada atau mudah dibentuk; berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan perikanan.
Uraian lengkap dan rinci SOP
Tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan teknologi CBF ikan Patin siam adalah sebagai berikut:
(1) Identifikasi potensi kesesuaian badan air untuk perkembangan ikan patin yang meliputi: luasan dan volume air serta kedalaman air; kualitas air; jenis dan kelimpahan sumber daya makanan alami; komposisi jenis ikan asli; estimasi potensi produksi ikan.
(2) Identifikasi Pembenihan Ikan Patin Siam yang meliputi: jumlah dan kualitas benih yang dihasilkan; waktu produksi; jarak tempuh ke badan air yang akan ditebari; dan sarana pendukung lainnya, seperti: alat dan cara pengemasan benih serta alat transportasinya. Jika pembenihan ikan patin siam belum tersedia dan jarak tempuh ke lokasi badan aiar yang akan ditebari sangat jauh maka perlu dibangun pembenihan ikan patin di sekitar lokasi badan air tersebut.
(3) Identifikasi kegiatan perikanan yang meliputi: jumlah nelayan; jenis dan jumlah alat tangkap, jenis, komposisi dan jumlah hasil tangkapan ikan.
(4) Identifikasi biaya yang diperlukan untuk kegiatan penebaran ikan patin dan peluang keberhasilannya.
(5) Identifikasi kelembagaan di mayarakat sekitar badan air: jumlah atau ketersediaan kelompok nelayan; kelompok pengawas; kelompok usaha perikanan lainnya. Jika kelompok belum terbentuk perlu diidentifikasi peluang keberhasilan pembentukkannya.
(6) Perencanaan pengembangan pengelolaan perikanan secara bersama (komanajemen). Pemerintah cq Dinas Perikanan setempat berperan sebagai fasilitator dan regulator sedangkan kelompok nelayan berperan sebagai pelaksana pengelolaan perikanan di badan air yang bersangkutan.
(7) Monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan pada perencanaan, selama dan setelah penerapan teknologi CBF ikan patin, dan dari hasil monitoring dilakukan evaluasi untuk mengkaji keberhasilan ataupun kegagalan penerapan teknologinya. Monitoring hasil tangkapan dilakukan oleh kelompok nelayan sedangkan evaluasinya dilakukan bersama antara pemerintah dengan kelompok pengelola perikanan, khususnya kelompok nelayan.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Teknologi CBF ikan patin siam adalah teknologi yang baru diterapkan di beberapa perairan waduk (Waduk Ir. H. Djuanda di Jawa Barat, Waduk Gajahmungkur dan Malahayu di Jawa Tengah) di Pulau Jawa dengan benar, berdasarkan pada hasil kajian ilmiah yang memadai sejak tahun 1999. Pada prinsipnya penerapan CBF di waduk tersebut didasarkan pada hasil penelitian mengenai
Gambar 2. Penebaran Benih Ikan Patin Siam bio-ekologi sumberdaya ikan yang meliputi relung makanan, kondisi habitat/lingkungan, kesuburan perairan dan trophik level sumberdaya ikan serta aspek perikanan.
Dari hasil penelitian ini akan dihasilkan jenis ikan yang sesuai dan jumlah benih optimum yang harus ditebar serta ikan tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap jenis ikan asli. Jenis ikan yang sesuai untuk diintroduksikan adalah ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Teknologi ini jika diterapkan di badan air lain perlu dimodifikasi terlebih dahulu disesuaikan dengan persyaratan teknis yang telah diuraikan pada bab terdahulu. Kegiatan penebaran benih ikan di perairan waduk Indonesia telah lama dilakukan, pada umumnya sama tuanya dengan selesainya pembangunan waduk tersebut. Namun hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut umumnya masih sangat minim. Penerapan teknologi CBF ikan patin siam merupakan teknologi yang unggul dengan alasan sebagai berikut: (1) sangat efisien, karena ikan patin tumbuh hanya dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia dan sisa pakan yang terbuang dari budidaya ikan dalam KJA; (2) ekonomis: karena pendapatan nelayan meningkat dengan harga jual ikan patin lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya; mudah dipasarkan karena pembeli (pedagang pengecer) datang sendiri ke tempat pelelangan ikan; dan ikan patin menjadi komoditas unggulan masyarakat nelayan setempat; (3) layak: teknologi CBF layak untuk dikembangkan di perairan waduk dengan karakteristik yang sejenis.
Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan Teknologi CBF sangat mudah diterapkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar waduk (badan air) karena sangat sederhana dan praktis. Masyarakat nelayan sebagai ujung tombak pelaksana pengelolaan cukup diarahkan untuk memahami persyaratan teknis pengembangan CBF dan bagaimana melakukan pengelolaan dan monitoring serta evaluasinya. Keberlanjutan pengelolaan sumber daya ikan akan berhasil jika masyarakat nelayan sudah membentuk kelompok sehingga semua peraturan yang dibuat dapat dipatuhi dan dilaksanakan.
Ramah lingkungan
Teknologi CBF sangat ramah lingkungan karena ikan yang ditebarkan hanya tumbuh dengan memanfaatkan kesuburan perairan, tidak ada makanan tambahan dari luar yang berpotensi menyuburkan perairan, ikan patin tidak bersifat invasif terhadap ikan asli. Ikan patin juga ikut beriur dalam memanfaatkan sisa makanan dari budidaya KJA yang jika tidak dimakan ikan patin berpotensi terhadap penurunan kualitas air waduk.
Gambar 3. Tagging Benih Ikan Patin Siam
Gambar 4. Pertumbuhan Ikan Patin Siam
Gambar 5. Jenis makanan Ikan Patin Siam
Gambar 6. Penjualan Hasil Tangkapan Patin Siam
Gambar 7. Produksi Tangkapan Ikan Patin Siam W A K T U D A N L O K A S I PENELITIAN, DAERAH YANG DIREKOMENDASIKAN
Penelitian terhadap CBF ikan patin siam telah dilaksanakan di Waduk Ir. H. Djuanda (2000 – 2002), Gajah Mungkur (1999 – 2003) dan Malahayu (2009 – 2010). Pada ketiga waduk tersebut ikan patin siam yang ditebar menunjukkan pertumbuhan yang positif serta memberikan peningkatan pendapatan mata pencaharian nelayan waduk. Keberhasilan lebih CBF ikan patin siam terjadi di Waduk Gajah Mungkur, dimana patin siam tersebut dapat memijah dengan baik.
Pada tahun 2010 dilaksanakan IPTEKMAS CBF ikan patin siam di Waduk Gajah Mungkur dan Malahayu d e n g a n t u j u a n m e m b e r i k a n pendampingan sekaligus diseminasi IPTEK pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan, serta penguatan kapasitas kelembagaan. perairan waduk terutama di Pulau Jawa dan perairan embung (waduk kecil) yang banyak tersebar di Nusa Tenggara dan Sulawesi yang jumlahnya mencapai lebih dari 800 buah dan sampai saat ini merupakan lahan sub optimal yang belum dimanfaatkan untuk perikanan. Teknologi CBF ini tidak direkomendasikan diterapkan di perairan danau atau waduk yang mempunyai keanekaragaman jenis ikan asli yang tinggi dan terdapat jenis ikan endemik dan atau ikan langka yang perlu dilindungi.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Penerapan teknologi CBF ikan patin siam dapat berdampak negatif terhadap penurunan keanekaragaman ikan asli jika ikan yang ditebarkan berkompetisi dengan ikan asli. Apalagi jika di Pada prinsipnya, penerapan teknologi CBF dapat dilakukan di perairan waduk dan danau di Indonesia. Namun demikian, agar resiko dampak negatif dari ikan yang ditebarkan terhadap jenis ikan asli tidak terjadi, maka p e n e r a p a n t e k n o l o g i C B F direkomendasikan untuk dilakukan di
Gambar 8 Peta Zonasi Perikanan di W. Gajahmungkur
Gambar 9 Suaka Induk Patin Siam di Kawasan KJA
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI badan air yang bersangkutan terdapat jenis ikan endemik atau jenis ikan langka yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
KELAYAKAN FI NAN S IAL DAN ANALISA USAHA
Contoh kelayakan financial dan analisis usaha CBF ikan patin siam di Waduk Gajahmungkur adalah sebagai berikut. Jumlah benih ikan patin siam yang ditebarkan sejak tahun 1999-2002 adalah 30.000 ekor. Harga benih pada saat itu adalah 200 rupiah per ekor, sehingga total biaya yang diperlukan untuk pengadaan benih hanya 6.000.000 rupiah. Ikan patin tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami (plankton, detritus, moluska) berkisar antara 8,7-13,1 gram per hari. Pada tahun 2004, hasil tangkapan ikan patin siam mencapai 112.215 kg atau setara dengan 785,5 juta rupiah. Hasil tangkapan ikan patin siam terus meningkat dan pada tahun 2009 mencapai 191.210 kg atau senilai 2,1 milyar rupiah (harga rata-rata patin 11.000 rupiah/kg) dimana hasil tangkapan patin menempati urutan ke dua dari total hasil tangkapan ikan di perairan waduk tersebut.
Ikan patin siam yang digunakan dalam penerapan teknologi ini semula didatangkan dari Thailand pada tahun 1972 sebagai kandidat komoditas budidaya. Dewasa ini, pembenihan ikan patin siam di Indonesia sudah berkembang baik sehingga benihnya mudah didapat dan benih patin siam yang digunakan pada waktu penebaran di Waduk Gajahmungkur, Ir. H. Djuanda dan Malahayu merupakan hasil pembenihan masyarakat di Sukamandi. Oleh karena itu, seluruh komponen yang digunakan dalam penerapan teknologi CBF ini adalah komponen dalam negeri.
Sumber:
Kartamihardja E. S., dkk. 2013. Culture Based Fisheries (CBF) Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus). Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Senin, 08 Oktober 2018

Teknologi Pendederan Ikan Patin Pasupati

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi
Ikan patin pasupati merupakan ikan hasil persilangan antara betina patin siam (Pangasianodon hypopthalmus) dengan jantan patin jambal (Pangasius jambal) hasil seleksi. Ikan patin ”Pasupati” dirilis sebagai ikan budidaya unggul pada Agustus tahun 2006, salah satu ciri dari ikan ini adalah berdaging putih (KEPMEN Kep.25/MEN/2006).
Tujuan penerapan teknologi pendederan adalah untuk menghasilkan dan menyediakan pasok benih baik kualitas maupun kuantitas dan tahan terhadap perubahan lingkungan budidaya serta untuk mempercepat peningkatan produksi dalam industrialisasi ikan patin
DEFINISI
Pasupati (Patin Super Harapan Pertiwi) merupakan ikan patin daging putih yang disukai konsumen. Ikan pasupati merupakan hybrid patin siam (daging kuning) dan patin jambal (daging putih).
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Benih sebar ikan patin pasupati merupakan hasil persilangan (hybrid) antara Induk Betina Patin Siam dan Induk Jantan Patin Jambal dengan rangkaian penciptaan teknologi sebagai berikut:
1. Pemeliharaan Larva/benih ikan patin Pasupati indoor (Pendederan 1)
Wadah pemeliharaan larva dapat berupa akuarium atau bak-bak fiber yang dilengkapi dengan aerasi untuk menjaga ketersediaan oksigen terlarut. Air yang digunakan dapat berasal dari air tanah atau air sungai yang telah disaring. Penggunaan pemanas (heater) dapat dilakukan untuk mempertahankan kestabilan suhu air pemeliharaan sehingga tidak terjadi fluktuasi suhu yang tinggi. Penggunaan aerasi mutlak diperlukan pada pemeliharaan larva ikan patin sebagai pensuplai oksigen terlarut dalam air. Aerasi dipasang pada setiap akuarium/bak pemeliharaan larva.
Penebaran larva harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan stress dengan cara memperhatikan kondisi air pemeliharaan. Penebaran yang optimal untuk larva patin pasupati adalah 50 ekor/liter. Pakan awal larva Patin berupa naupli artemia yang diberikan setelah larva berumur 30 - 36 jam dan diberikan selama 5 hari. Nauplii Artemia diberikan setiap 2 jam pada hari pertama dan setiap 3 jam pada hari ke dua sampai hari kelima. Pada hari ke lima mulai dilatih makan cacing sutera (Tubifek), Moina atau Daphnia. Pakan cacing sutera (Tubifek), Moina atau Daphnia diberikan selama 5-7 hari. Dengan frekuensi pemberian pakan setiap 3 jam sekali. Saat larva berumur 12 hari, pakan yang diberikan berupa pellet dengan kandungan protein kasar sekitar 38- 40%, ikan pada setiap hari diberi pakan hingga kenyang (ad satiation). Frekuensi pemberian pakan minimal 5 kali per hari. Masa pemeliharaan larva selama 3 -4 minggu sampai ukuran 1 inci.
Penyiponan dilakukan setiap hari untuk membersihkan dasar wadah pemeliharaan. Pergantian air sebanyak 30-50% dilakukan pada hari ke tiga dengan air yang sesuai dengan kebutuhan hidup larva. Sebelum dilakukan pemanenan terlebih dahulu ikan dipuasakan untuk mengosongkan isi perut, sehingga tidak banyak kotoran yang dikeluarkan pada saat pengangkutan. Lamanya pemuasaan disesuaikan dengan lamanya waktu tempuh dalam transportasi. Untuk waktu tempuh 10 jam diperlukan pemuasaan minimal 24 jam. Pengangkutan benih dapat dilakukan dengan 2 cara:
a. Sistem terbuka Menggunakan drum plastik berkapasitas 200 liter. Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut digunakan aerasi. Kapasitas angkut benih ikan patin adalah 100 g/ l air dengan lama waktu tempuh 10 jam, apabila lebih dari 10 jam perlu dilakukan penggantian air. Pengangkutan dengan sistem ini lebih cocok untuk benih ukuran relatif besar ( ≥ 1 inchi).
b. Sistem tertutup
Menggunakan kantong plastik yang diberi tambahan oksigen. Perbandingan oksigen dan air adalah 2 : 1. Kapasitas angkut 50 g/l air untuk waktu tempuh maksimum 10 jam. Pengangkutan dengan sistem ini lebih cocok untuk benih ukuran kecil (maksimum 1 inchi).
Pencegahan Penyakit
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara menerapkan biosecurity yang ketat dengan menjaga kebersihan wadah pemeliharaan, menjaga stabilitas suhu agar tetap panas antara 28 - o 31oC, pakan terbebas dari parasit dan jamur, dan menjaga kondisi air agar tetap baik yang selalu bersih dari sisa pakan. Target produksi dari kegiatan pendederan 1 sebanyak 120.000 benih ekor per siklus, dimana dalam 1 tahun produksi sebanyak 960.000 ekor ( 8 siklus pemijahan).
Kaji Terap
1. Pendederan l benih patin Pasupati secara indoor Kegiatan kaji terap teknologi pendederan I telah dilakukan secara indoor di Balai Benih Ikan (BBI) Tanjung Putus Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir selama 28 hari. Pemeliharaan larva/benih dilakukan pada wadah akuarium volume 400 liter dan fiberglass bulat volume 750 liter. Setelah 28 hari pemeliharaan benih dipanen dengan rata-rata panjang standar 3,44±0,37 cm, panjang total 4,13±0,48 cm dan bobot 0,72±0,24 gram. Jumlah benih yang dipanen sebanyak 400.000 ekor (tingkat kelangsungan hidup 78,84 %).
2. Pendederan II benih ikan patin Pasupati secara outdoor di kolam Dalam kegiatan pendederan ll ikan patin pasupati, aspek persiapan kolam sebelum penebaran benih ikan merupakan hal yang harus diperhatikan, karena dapat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh pada saat panen. Persyaratan untuk kolam pendederan ll antara lain berada di kawasan bebas banjir dan bahan pencemar, tanah dasar stabil, sumber air mencukupi, tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun, konstruksi kolam tanah atau tembok dengan pematang yang kuat, luas kolam 200-1.000 m (sesuai kebutuhan), kedalaman air kolam 60 - 100 cm. 2 Persyaratan kualitas air kolam pemeliharaan yang dibutuhkan antara lain oksigen terlarut minimal 3 mg/l, pH berkisar antara 6,5 - 8,5, suhu berkisar antara 25-31 C, ammonia maksimal 0,02 mg/l, o dan nitrit maksimal 0,01 mg/l.
Persiapan kolam dilakukan sebelum penebaran benih, diawali dengan pengeringan, pembersihan predator dan kompetitor dengan Saponin (20-40 ppm). Pengolahan kolam dan pengapuran (50100 g/m ), penebaran pupuk berupa kotoran ayam kering (250-500 g/m ) atau berupa kompos 2 2 (50-100 g/m ), urea (6 g/m ), TSP (3 g/m ) dengan cara ditebarkan di kolam. Pengisian air kolam 2 2 2 minimal kedalaman 80 cm.
Penebaran benih dilakukan pada hari ke-7 setelah pemupukan yang mana kelimpahan plankton sudah relatif tinggi. Benih ditebar pada pagi atau sore hari dengan padat tebar 100 ekor/m2 . Sebelum benih ditebar dilakukan aklimatisasi dengan mencampur air sedikit demi sedikit, sampai suhu air pada wadah packing dengan wadah pemeliharaan relatif sama. Atau benih ikan dalam kantung plastik pengangkutan dibiarkan mengapung diatas air selama 5-10 menit, kemudian mencampur air sedikit demi sedikit. Benih yang akan ditebar dibiarkan keluar sendiri dari kantong plastik wadah pengangkutan .
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan jenis tenggelam, terapung maupun kombinasi keduanya. Ukuran pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut ikan. Misalnya; untuk pakan tenggelam berbentuk crumbel ukuran ± 1mm. Kadar protein kasar pakan yang diberikan mulai dari 32% - 40%, dengan teknik pemberian pakan sebagai berikut:
 10 hari pertama pemberian pakan dengan kadar protein kasar 40%, jumlah pakan yang diberikan 15% per biomas ikan per hari.
 10 hari kedua pemberian pakan dengan kadar protein kasar 35-38% jumlah pakan yang diberikan 12,5% per biomas ikan per hari
 10 hari selanjutnya sampai dengan ukuran ikan siap ditebar untuk dibesarkan dengan kadar protein kasar 32%, jumlah pakan yang diberikan 10% per biomas ikan per hari. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore hari)
Pada kegiatan pendederan ll, pemanenan dilakukan secara bertahap. Sebelum dilakukan pemanenan terlebih dahulu ikan dipuasakan untuk mengosongkan isi perut. Pemanenan dilakukan dengan cara menjaring sebagian benih dengan menggunakan jaring ered. Setelah dipanen, benih dipisahkan berdasarkan ukuran menggunakan grader. Benih yang memiliki ukuran benih tebar (4 – 5 inchi) dipisahkan dan siap sebagai benih tebar untuk dibesarkan.
Segala hal yang menyangkut kegiatan dari mulai persiapan hingga distribusi hasil panen harus selalu dilakukan dengan tertib. Hal-hal yang perlu dicatat misalnya; waktu penebaran, bobot benih yang ditebar, jumlah penebaran, jumlah pakan, waktu panen, jumlah hasil panen, harga benih, harga pakan dan harga produk akhir. Informasi ini berguna untuk pedomam perbaikan usaha budidaya berikutnya.
Target produksi dari kegiatan pendederan ll sebanyak 90.000 benih ekor per siklus, dimana dalam 1 tahun produksi sebanyak 540.000 ekor ( 6 siklus pemijahan).
Tabel 1. Keragaan pertumbuhan benih patin pasupati yang dipelihara selama 40 hari hasil pendederan II Kegiatan kaji terap teknologi pendederan II dilakukan secara outdoor di BBI Tanjung Putus Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Ikan patin pasupati merupakan komoditas perikanan budidaya yang memiliki potensi pasar ekspor yang dapat menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi kerakyatan. Teknologi pendederan I secara indoor merupakan teknologi pendederan yang paling efektif karena kapasitas produksi dapat dilakukan secara maksimal, pengawasan dan pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih intens, dan proses pemanenan lebih mudah. Teknologi pendederan II secara outdoor memiliki keunggulan antara lain perawatan benih lebih mudah, biaya produksi lebih murah, penggunaan air lebih efisien, penggunaan pakan buatan dapat dikurangi, konversi pakan cenderung lebih rendah dan pertumbuhan benih dapat lebih cepat
LOKASI PENELITIAN DAN WILAYAH REKOMENDASI
Wilayah pengembangan usaha dalam rangka penerapan teknologi pendederan ikan patin pasupati adalah lokasi yang memiliki kriteria sebagai berikut:
 Parameter kualitas air yang optimal untuk pemeliharaan antara lain: suhu 28 -30 C, o kandungan oksigen terlarut >5 ppm, pH 6,5 – 8,5, amoniak (NH3) <0,2 mg/l dan nitrit (NO2) <0,01mg/l.
 Lokasi kegiatan pendederan relatif tidak jauh dengan kawasan kegiatan pembesaran. Wilayah pengembangan /penerapan teknologi yang diusulkan antara lain : Sumatera Selatan (Palembang, Ogan Ilir, Banyu Asin), Jawa Timur (Tulung Agung), Kalimantan Selatan (Banjar Baru). 
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Ikan patin Pasupati ukuran benih tebar (4 – 5 inchi) mengeluarkan lendir relatif lebih banyak pada saat pemanenan yang berakibat mudah stres sehingga diperlukan penanganan yang sangat hati – hati dan tetap dalam kondisi basah.
KELAYAKAN FINANSIAL
Dengan tingkat komponen dalam negeri mencapai 90% (ekonomis), berikut dilampirkan analisa usaha yang terkait kegiatan produksi benih ikan patin pasupati:
Analisa Usaha Pemeliharaan Larva/benih ikan patin Pasupati secara indoor
Analisa Usaha Pendederan II benih ikan patin Pasupati secara outdoor di kolam
Pemeliharaan Larva/benih ikan patin Pasupati secara indoor
Fasilitas pemeliharaan benih dalam bentuk bak fiber bulat dan akuarium
Pendederan II benih ikan patin Pasupati secara outdoor di kolam
Kolam pemeliharaan pendederan II - Benih ukuran ¾ - 1 inci
Gambar Kegiatan panen dan penghitungan
Gambar Benih siap tebar ukuran 4 – 5 inchi
Sumber:
Utami R., 2013. Teknologi Pendederan Ikan Patin Pasupati. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.