Rabu, 07 Maret 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN GABUS



            Ikan gabus (Channa striata Bloch) merupakan salah satu jenis komoditas perairan tawar yang hidup di perairan sungai utama, sungai mati, danau, rawa banjiran, yang merupakan rawa hutan,rawang dan lebung atau cekungan di daerah rawa (Utomo et al, 1992), dan   tersebar di Indonesia, seperti Sungai Musi Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Papua, Jawa Timur dan maupun dibeberapa daerah lainnya di Indonesia.
            Daerah rawa banjiran merupakan salah satu tipe ekosistem yng produktif bagi perikanan air tawar (welcomme, 1985). Pada perairan rawa banjiran tinggi air (volume air) sangat bervariasi sepanjang tahun, karena dipengaruhi oleh musim hujan. Pada saat musim kemarau volume air kecil hanya tinggal di sungai utama, cekungan-cekungan tanah (lebung) dan danau. Pada saat musim penghujan air meluap menutupi permukaan tanah dapat mencapai 3-4 meter. Keadaan ini akan mempengaruhi sifat biologi dan ekologi pada daerah tersebut. Pada musim kemarauikan tinggal di cekungan-cekungan tanah (lebung), danau dan sungai utama, sedangkan pada saat air banjir ikan menyebar keseluruh penjuru perairan. Fungsi vegetasi di perairan rawa pada saat air besar sebagai tempat mencari makanan bagi ikan dan sebagai tempat asuhan serta sebagai tempat untuk melekatkan telur bagi ikan-ikan yang sedang memijah, puncak musim pemijahan umumnya terjadi pada awal musim penghujan (Utomo et al, 1992; MRG, 1994).


BIOLOGI IKAN GABUS

2.1. Morfologi
Berdasarkan Kottelat et al. (1993), Syafei,et al. (1995); ICLARM (2002), ikan gabus (gambar dibawah ini) di kelompok ke dalam ordo Pleuronecti formes dan famili Channidae mempunyai ciri-ciri seluruh tubuh dan kepala ditutupi sisik sikloid dan stenoid. Bentuk badan hampir undar di bagian depan dan piph tegak ke arah belakang sehingga disebut ikan berkepala ular (snakedhead). Ikan ini mampu menghirup udara dari sungai atmosfer karena memiliki organ napas tambahan pada bagian atas insangnya. Hal ini juga yang memuat ikan tersebut mampu bergerak dalam jarak jauh pada musim kemarau untuk mencari sumber air.

2.2. Distribusi
Berdasarkan FAO (2002) dan Allington (2002), ikan gabus mempunyai distribusi yang luas dari China hingga India dan Srilangka, kemudian India Timur dan Philipina, juga Nepal, Burma, Pakistan, Banglades, Singapura, Malaysia dan dan Jawa). Indonesia (Sumatera, Kalimantan).

2.3. Ukuran dan Habitat

Menurut Allington (2002), di alam panjang ikan gabus dapat mencapai 1 meter dengan ukuran rata-rata mencapai antara 60-75 cm. Panjang larva sekitar 3,5 mm, pasacalarva setelah 4 minggu dengan panjang antara 10-20 mm, setelah 6 minggu ikan mempunyai ukuran 4-5 cm.
Ikan gabus merupakan jenis ikan air tawar yang dapat hidup di sungai, danau, kolam, bendungan, rawa, banjiran, sawah bahkan parit dan air payau (Syafei et al, 1995; Anonim, 2002). Menurut Le fish Corner (1999); Allington (2002), bahwa ikan gabus sangat toleran terhadap kondisi anaerobik, karena mereka mempunyai sistim pernapasan tambahan pada bagian atas insangnya. Berdasarkan Syafei et al. (1995) yang melakukan penelitian perairan umum Jambi, ikan gabus hidup dengan kondisi perairan yang mempunyai : pH 6,2-7,8 dan temperatur 26,5-31,5 0C.

2.4. Penangkapan
Berdasarkan Prasetyo et al. (1993), alat tangkap yang dipergunakan oleh nelayan di perairan umum sangat beraneka ragam, cara pengoperasiannya ada yang pasif dan ada yang aktif. Ditambahkan oleh Utomo dan Arifin (1991), di DAS musi, penangkapan ikan di daerah rawa atau lebak lebung kebanyakan menggunakan alat tangkap yang bersifat pasif, sedangkan di sungai adalah alat tangkap yang bersifat aktif. Menurut Nasution dan Rupawan (1997), alat tangkap yang tergolong pasif adalah empang (barrier and trap), corong (Filtering device), bingkai bila (bamboo pot trap), dan rawai (hooks and line). Alat tangkap yang bersifat aktif adalah jala (cast net), jaring (gillnet) dan langgian (scoop net).
Beberapa jenis alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan gabus oleh nelayan di daerah rawa banjiran berdasarkan Samuel et al.(1997), Nasution dan Rupawan (1997) adalah jala, penggilar kawat, bengkirai bilah, tajur, rawai dan empang.

2.5. Makanan
Ikan gabus merupakan ikan karnivora dengan makanan utamanya adalah udang, katak, cacing, serangga dan semua jenis ikan. Menurut Allington (2002), pada masa larva ikan gabus memakan zooplankton dan pada ukuran fingeling, makanannya berupa seraangga, udang dan ikan kecil. Sementara itu menurut Anonim (2002), pada fase pascalarva ikan gabus memakan makanan yang mempunyai kuantitas yang lebih besar seperti Daphnia dan Cyclops, sedangkan ikan dewasa akan memakan udang, serangga, katak, cacing dan ikan. Pada penelitian Sinaga et al. (2002) di sungai Banjiran Jawa Tenga, diketahui makanan ikan gabus dengan kisaran panjang total antara 5,78-13,4 cm adalah serangga air, potongan hewan air, udang dan detritus. Sementara itu  berdasarkan penelitian Buchar (1998) di danau Sabuah Kalimantan Tengah, makanan ikan gabus adalah potongan hewan air, siput air, rotifera dan Rhizopoda.

2.6. Hubungan Panjang dengan Bobot
Pola pertumbuhan padaikan terdiri atas pertumbuhan isometrik, yaitu pertambahan bobot seimbang dengan pertambahan panjang, dan pola pertumbuhan allometrik yaitu pertambahan bobot tidak seimbang dengan pertambhan panjang. Berdasarkan hasil penelitian Kartamihardja (1994), ikan gabus yang diperoleh sebanyak 241 ekor dengan panjang total berkisar antara 15,2 – 62,8 cm dan bobot berkisar antara 45 – 1950 gr.  Hubungan panjang dan bobot ikan tersebut mengikuti persamaan W=0,0213L2,743. pola pertumbuhan ikan gabus di waduk kedungombo bersifat allometrik (b¹3).

2.7. Faktor Kondisi
Hile (1936) dalam weatherley (1972), melakukan penelitian pada populasi ikan cisco (Leucichthys artedi) di beberapa danau di Amerika Utara, hasilnya menunjukan bahwa perbedaan populai akan berpengaruh terhadap kondisi ikan tersebut.  Sedangkan hasil penelitian Allen (1951) dalam Weatherley (1972) padaikan Trout di sungai Harokiwi menyatakan bahwa faktor kondisi ikan juga di pengaruhi oleh musim, yaitu pada musim panas kondisi ikan Trout lebih baik di bandingkan pada musim lain. Di tambahkan juga oleh Weathersley (1972), yang melakukan penelitian di Tasmania, bahwa kondisi ikan Tench dewasa dengan ukuran 20 – 30 cm juga di pengaruhi proses pemijahan selain faktor musim.

2.8. Pertumbuhan
Dengan pertumbuhan ikan gabus pada beberapa jenis perairan yang di nyatakan dalam persamaan Von Beartalanffy adalah sebagai berikut : padaa perairan waduk kedungombo jawa tengah yaitu Lt = 66,93 {l-e-1,1(t-to)} dan di danau Tondano Sulawesi Utara yaitu Lt = 45,7 {l - -1,1(t-to) }.
Pertumbuhan ikan gabus di danau Tondano lebih rendah di bandingkan pertumbuhan ikan gabus di waduk kedungombo, keadaan tersebut dapat di lihat dari nilai Loo ikan gabus di waduk kedungombo yang lebih besar yaitu 66,93 cm di bandingkan di danau Tondano yaitu 47,7 cm (Kartamihardja, 1994 ; 2000).

2.9. Reproduksi
Ikan gabus membuat sarang di sekitar tumbuhan air atau pingiran perairan yang dangkal. Sarang ikan gabus membentuk busa di antara tanaman air di periran yang berarus lemah (Syfei et al.,1995; Alington, 2000).  Berdasarkan Anonim (2002), di Srilangka ikan gabus di alam memijah beberapa kali dalam setahun, sedangkan di Philipina ikan gabus dapat memijah setiap bulan. Ditambahkan oleh Allington (2002), ikan gabus dapat memijah pada umur 9 bulan dengan panjang total sekitar 21 cm. Musim pemijahan ikan gabus di Thailand antara bulan mei sampai oktober, dengan puncaknya pada bulan juli sampai september. Sementara itu berdasarkan duong nhut Long et al.I (2002), yang melakukan penelitian terhadap ikan gabus di delta Mekong, diperoleh ikan gabus yang matang kelamin lebih dahulu adalah ikan gabus betina. Berdasarkan penelitian Kartamihardja (1994), di waduk kedungombo Jawa Tengah ikan gabus betina mulai matang kelamin pada ukuran panjang total 16,5 cm.
Umumnya telur-telur yang telah dibuahi akan menetas dalam waktu 24 jam (pada kondisi alami) sedangkan pada kondisi laboratorium atau budidaya telur akan menetas setelah 48 jam Anonim, 2002). Umumnya induk jantan akan menjaga sarang dan telur selama periode inkubasi paling lama 3 hari. Benih ikan akan bergerombol dan salah satu dari induknya akan menjaga mereka sepanjang waktu (Syafei et al, 1985; Allington, 2002).

2.10. Tingkat Kematangan Gonad
Ukuran ikan pada saat pertama kali matang gonad tidak selalu sama (Effendie, 1979). Menurut Blay dan Egeson (1980), perbedaan ukuran ini terjadi akibat perbedaan kondisi ekologis perairan.
Menurut Utomo et al, (1992); Chen (1976), dalam Sinaga et al. (2000), ikan gabus dan jenis ikan rawa lainnya melakukan pemijahan di awal atau pertengahan musim hujan. Berdasarkan Kartamihardja (1994), yang melakukan penelitian di waduk Kedungombo Jawa Tengah di peroleh indeks kematangan gonad ikan gabus betina meningkat mulai dari 1,16% pada tingkat kematangan I sampai mencapai 4,15% pada tingkat kematangan V yang kemudian menurun tajam pada tingkat kematangan VI, yang menunjukkan penurunan berat gonad karena terjadinya pelepasan telur pada saat memijah.

2.11. Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur matang dalam ovari yang akan dikeluarkan pada waktu memijah (Hunter et al, 1992). Pertumbuhan bobot dan panjang ikan cendrung meningkat fekunditas secara linier. Sebagai ikan mas (Cyprinus carpio) dengan panjang  15 cm mempunyai fekunditas 13512 butir, dan panjang 60 cm mempunyai fekunditas 2945000 butir (Bardach et al., 1972).
Menurut Kartamihardja (1994), yang melakukan penelitian biologi reproduksi populasi ikan gabus di Waduk Kedongombo Jawa Tengah, diperoleh kesimpulan bahwa ikan gabus di daerah tersebut memijah dengan perbandingan kelamin jantan dan betina 1 : 1. Fekunditas ikan gabus yang dihitung dari 24 individu dengan kisaran panjang total antara 18,5-50,5 cm, kisaran bobot antara 60-1020 g dan kisaran bobot gonad antara 2,70-16,02 g berkisar antara 2585-12880 butir. Fekunditas tersebut lebih besar dari rata-rata fekunditas ikan gabus yang terdapat di rawa-rawa Pekanbaru Riau yang berkisar antara 1190-11307 butir telur.  Hal ini karena ukuran ikan yang diteliti di rawa-rawa Pekanbaru lebih kecil yaitu antara 165-360 mm dengan bobot antara 35-375 g dan bobot gonad antara 0,82-7,84 g.

2.12. Diameter Telur
Pengukuran diameter telur pada gonad yang sudah matang berguna untuk menduga frekuensi pemijahan, yaitu dengan modus penyebarannya. Telur-telur ikan gabus yang telah dibuahi mengapung pada busa, diameter telur tersebut sekitar 1,5 mm (Anonim, 2002). Sedangkan berdasarkan Duong Nhut Long et al., (2002) ukuran telur ikan gabus rata-rata pada TKG IV adalah antara 0,10-1,6 mm.    




TEKNIK BUDIDAYA

3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan gabus sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung dari selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen.
Pada minggu ke I samapi ke VI air harus dalam keadaan jernih, kolam bebas dari pencemaran meupun fitoplankton. Ikan gabus pada umur 7 – 9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu ke 10 air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi disk.
Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia ikan gabus (minggu) sesuai dengan angka secchi :
Usia 10 – 15 minggu, angka secchi = 30 - 50
Usia 16 – 19 minggu, angka secchi = 30 – 40
Usia 20 – 24 minggu, angka secchi = 30

3.2. Penyiapan Bibit
1). Menyiapkan Bibit
Pemilihan Induk
Syarat induk yang baik
Induk harus sipa untuk memijah
Perawatan induk ikan gabus
Pemijahan

3.3. Pemeliharaan dan Pembesaran
1). Pemupukan
Sebelum digunakan, kolam terlebiha dahulu dipupuk. Pemupukan bermaksud untuk  menumbuhkan plankton yang menjadi pakan alami bagi benih ikan gabus.
Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam). Dengan dosis 500 – 700 gram/m2. dapat pula ditambah dengan Urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan Amonium Nitrat 15 gram/m2. selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.
Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selamaz 1 minggu sampai warna pada air kolam berubah menjadi kecoklatan atau kehijauan yang menunjukkan jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami benih ikan gabus.
Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih gabus ditebar.

2). Pemberian Pakan
Makanan alami yang berupa zooplankton, larva, cacing-cacing dan serangga air. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomponema spp (golongan Diatome), anabaena spp (Golongan Cyanophyta), Navicula spp (golongan Diatome). Ikan gabus juga menykai pakan busuk yang berprotein serta kotorang yang berasal dari kakus.
Makanan tambahan dapat diberikan sisa-sia makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam, dan bangkai. Campuran dedak dan ikan rucah (9 : 1) atau campuran bekatul, jagung, dan bekicot (2 : 1 : 1).
Pakan buatan (pellet) dapat diberikan dengan komposisi (% berat) : tepung ikan = 27; bungkil kacang kedelai 20; tepung terigu 10,50; bungkil kacang tanah 18; tepung kacang hijau 9; tepung darah 5; dedak 9; vitamin 1; mineral 0,5. cara pemberian pakan pellet mulai dikenalkan pada benih ikan gabus pada umur 6 minggu dan diberikan 10 – 15 menit sebelum pemberian makanan yang berbentuk tepung. Pada minggu ke 7 dan seterusnya sudah dapat diberikan pakan berpa pellet. Hindarhan pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu suhu tinggi dapat mengurangi nfsu makan ikan gabus.

PENYAKIT


4.1. Jenis Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ikan gabus adalah parasit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa. Namun, jenis penyakit yang dibahas dalam buku ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jenis penyakit dan penyebabnya
NO
NAMA PENYAKIT
PENYEBAB
1.
Bintik Putih
(White Spot)
Penyebabnya adalah jamur Ichthiopthirius multifiliis. Penularan penyakit ini dapat melalui air dan kontak langsung antar ikan.

Tabel 2. Penyakit dan gejala serangan
NO
NAMA PENYAKIT
GEJALA SERANGAN
1.
Bintik Putih
(White Spot)
Timbul bintik-bintik putih pada bagian ekor, kepala, dan punggung.
Gerakan lemah.
Nafsu makan berkurang.

4.2. Pengobatan
Penyakit yang menyerang ikan gabus dapat diobati dengan menggunakan bahan kimia dan bahan alami. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut :






Tabel 3. Pengobatan dengan menggunakan bahan kimia
NO
NAMA PENYAKIT
PENGOBATAN DENGAN BAHAN KIMIA
1.
Bintik putih
(White Spot)
Menggunakan Formalin untuk menghilangkan lendir dengan dosis 0,1 ppm atau 0,1 mg (0,1 ml) / liter air.
2.Menggunakan Malachite Green (MG) untuk membunuh Ichtthyoptirius multifulis dengan dosis 0,1 ppm atau 0,1 mg (0,1 ml) / liter air.



Tabel 4. Pengobatan dengan bahan alami
NO
NAMA PENYAKIT
PENGOBATAN DENGAN BAHAN ALAMI
1.
Bintik putih
(White Spot)
1. Daun Sambiloto
- Dosis 10 lembar/10 liter air.
- Rendam selama 20 jam.
2. Mahkota Dewa
Dosis 10 iris/2 liter air, direbus  sampai sisa air sebanyak 1 liter dan dibiarkan sampai dingin.
Rendam selama 8 jam sampai ikan  benar-benar sembuh.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002. Budidaya Ikan Air Tawar. Deputi Manegeristik Bidang Pendayagunaan dan Kemasyarakatan IPTEK. Jakarta.
Djuanda, Tatang. 1981. Dunia Ikan. Armico. Bandung.
Sentis Y. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Gabus Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Siswoyo, Pujo. 2004. Tumbuhan Berkhasiat Obat. Absolut. Yogyakarta.
Skripsi hasil penelitian Mahasiswa IPB tahun 2003.

 



Rabu, 28 Februari 2018

TEKNIK PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN BAWAL


PENDAHULUHAN


Ikan bawal berasal dari Amerika Selatan. Ikan bawal merupakan salah satu jenis ikan air tawar tersebar dari golongan ikan neotropik.  Pertumbuhan ikan bawal relatif lebih cepat dibandingkan dengan beberapa jenis ikan air tawar lain. 
            Budidaya ikan bawal tidak sulit.  Ikan ini dapat dibudidayakan di kolam tertutup atau tergenang dan kolam air deras dan dipelihara dalam jala (jaring) apung yang dibangun di pinggir waduk atau danau dan perairan umum. 
            Pemijahan ikan bawal di kolam hanya dapat dilakukan dengan cara hypofisasi atau rangsangan hormon (induce spawing) menggunakan ekstraks kelenjar hypopisa, ovaprim.  Selanjutnya, induk yang telah dirangsang dipijahan secara alami ataupun dilakukan striping atau ovulasi buatan.
            Kendala utama budidaya ikan bawal adalah serangan parasit.  Berdasarkan pengamatan di kolam pemeliharaan ikan bawal menunjukkan bahwa sebagian terbesar kasus-kasus serangan parasit terjadi pada saat awal pemeliharaan atau fase perkembangan benih ikan.  Parasit yang seringkali menyerang benih ukuran sedang adalah Ichthyopthirius, Trikodina. Sedangkan parasit lain yang menyerang benih ukuran besar dan ikan dewasa adalah


DESKRIPSI IKAN BAWAL


A. Taksonomi dan Morfologi
 Sistematika ikan bawal  menurut Bryner adalah sebagai berikut :
Filum               : Chordata
Kelas               : Pisces
Ordo                : Cypriniformes
Famili              : Characidae
Genus              : Colossoma
Spesies                        : Colossoma Macropomum

Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangankan bagian bawah berwarna putih.  Pada bawal dewasa, bagian bawah sirip ekor berwarna merah, bagian tepi sirip perut, sirip anus, dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah. Dibandingkan dengan badannya, bawal memiliki kepala kecil dengan mulut terletak di ujung kepala, tetapi agak sedikit ke atas.  Matanya kecil dengan lingkaran berbentuk seperti cincin.  Rahangnya pendek dan kuat serta memeliki gigi seri yang tajam.


B. Penyebaran dan Habitat
Ikan bawal telah berkembang dan menyebar dari kawasan Amerika selatan sampai Asia Tenggara. Ikan bawal termasuk jenis ikan tawar yang mudah beradaptasi dengna perubahan lingkungan. Ikan bawal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan perairan tenang ataupun mengalir. Ikian bawal juga mudah dibiasakan hidup di perairan yang airnya mengalir deras.

C. Makan dan Kebiasaan Makan
            Ikan bawal merupakan jenis ikan pemakan segala (omnivora).  Meskipun tergolong omnivora, ternyata pada masa kecilnya (larva), bawal lebih bersifat karnivora. Jenis hewan yang paling disukai adalah Crustasea, Cladoceta, Copepoda, dan Ostracoda. Meskipun ikan bawal tergolong ikan omnivora, dalam pemeliharaannya dapat diberi pakan tambahan berupa pellet, ikan-ikan kecil, dan daging keong mas.

D. Kebiasaan Berkembang Biak
            Bawal biasanya memijah pada awal dan selama musim hujan.  Di Brazil dan Venezuela, kejadian itu terjadi pada bulan Juni dan Juli.  Sedangkan di Indonesia kematangan gonad bawal terjadi pada bulan Oktober sampai April.


BUDIDAYA IKAN BAWAL

Pembenihan Ikan Bawal
Seleksi Induk
Postur tubuh induk betina melebar dan pendek,  warna kulit lebih gelap. Abdomen dan bibir urogenital berwarna merah atau kemerah-merahan. Perut lembek dan dan lubang kelamin agak membuka. Sedangkan postur tubuh induk jantan relatif lebih langsing, panjang, dan operkkulumnya agak kasar.
Pemijahan Induk
Pemijahan ikan bawal diawali dengna ovulasi telur induk betina dan sperma induk jantan. Menjelang ovulasi, induk jantan biasanya mengejar dan berenang membuntuti dan menghimpit induk betina. Pemijahan ikan bawal terjadi pada musim penghujan.
Penetasan telur dan Perawatan Larva
Telur akan menetas dalam waktu 18-24 jam dengan persentase 80 %. Perawatan larva di akuarium atau di kolam selama 14 hari. Dalam kurun waktu tersebut, benih yang dihasilkan sudah mencapai 1/2 – 3/4 inci.
Pendederan
Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih hingga mencapai ukuran 4 inci (25 gram) yang siap dijual sebagai ikan hias atau dipelihara di kolam pembesaran.

Pembesaran Ikan Bawal
Pembesaran ikan bawal dapat dilakukan secara kovensional dikolam besar (luas )tanpa dilakukan pengelolaan pakan dan pembesaran secara intensif yang terkontrol dan di kelolah secara baik.
Pengelolaan pakan secara efisien dapat di kalkulasikan berdasarkan nilai food corversy ration (FCR), yaitu perdandingan jumlah pakan yang diberikan dan berat ikan (daging) yang dipanen (dihasilkan ).  Nilai FCR untuk pembesaran ikan adalah 1- 1,2 Artinya, jumlah (berat) pakan yang diberikan hampir sebanding berat ikan yang dihasilkan. 
Ikan bawal yang dipelihara kolam bersifat garang, cenderung ganas (buas), dan suka menyerang ikan-ikan lain , terutama ikan –ikan yang lemah dan berukuran kecil oleh karena itu,pembesaran ikan bawal  di lakukan secara monokultul dikolam tertutup atau kolam tenang tanpa penggantian air atau kolam air mengalir, termasuk air deras dan jala apung yang di pasang di pinggir waduk (danau).
IV. PENYAKIT UMUM YANG MENYERANG

Tabel 1. Penyakit yang sering Menyerang di Lokasi Pembenihan
PENYAKIT
GEJALA
PENGOBATAN KIMIAWI
PENGOBATAN TRADISIONAL
1. Parasit

Penyakit Bintik Putih / White Spot disebabkan oleh protozoa IchthyphItirius multifiliis



Malas berenang, sering mengapung di permukaan air, terlihat bintik putih di bagian sirip, tutup insang, permukaan tubuh, dan ekor.


Direndam  formalin 400 ppm dan malachyt green 0,1 ppm selama 1 jam
direndan dalam air mengalir pelan



Direndam dengan daun miana 7-10 lembar yang direbus dengan 3 gelas air selama 3 x sehari.

2. Parasit

Disebabkan oleh parasit Trichodina spp


Benih lemah dan kurus, kelihatan gatal dan sering menggosok pada benda lain



Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam  malachyt green dengan dosis 0,1 ppm selama 24 jam



Direndam dengan daun miana 7-10 lembar yang direbus dengan 3 gelas air selama 3 x sehari.





Tabel 2. Penyakit yang sering Menyerang di Lokasi Pembesaran
PENYAKIT
GEJALA
PENGOBATAN KIMIAWI
PENGOBATAN TRADISIONAL
1.Parasit
Disebabkan oleh cacing Dactylogyrus sp dan parasit Gyrodactylus sp


Kulit kusam , sirip rontok,  ikan mengosokan tubuh pada benda padat (substrat), operkulum merenggang

Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam 
  Direndan dalam air mengalir pelan


Direndam dengan daun miana 10-15 lembar yang direbus dengan 5 gelas air selama 3 x sehari.

2. Parasit

Disebabkan oleh parasit Trichodina spp


Benih lemah dan kurus, kelihatan gatal dan sering menggosok pada benda lain



Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam  malachyt green dengan dosis 0,1 ppm selama 24 jam



Direndam dengan daun miana 10-15 lembar yang direbus dengan 5 gelas air selama 3 x sehari.




DAFTAR PUSTAKA


Abaas Siregar Djarijah. 2001. Budidaya  Ikan Bawal. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Anonim, 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Arie Usni. 2000.  Budidaya Bawal Air Tawal.  PT  Penebar Swadaya,   Jakarta.
Suryati dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Bawal Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Wijayakusumah, H. dkk, TANAMAN BERKHASIAT OBAT DI INDONESIA. Penerbit Pustaka Kartini.




Kamis, 22 Februari 2018

SANITATION STANDARD OPERATING PROCEDURS (SSOP) PENANGANAN PRODUK PERIKANAN


Pengertian SSOP
Sanitasi adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan pathogen serta membahayakan manusia. Sanitasi hasil perikanan adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan pathogen dalam hasil perikanan dan membahayakan manusia.Higiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu.
Teknik sanitasi dan higien adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan upaya pemeliharaan/pengawasan kebersihan dan kesehatan dalam proses produksi dan distribusi hasil perikanan untuk mencapai kondisi tertentu sehingga hasil perikanan tersebut memenuhi standar mutu.
Persyaratan sanitasi adalah standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi, termasuk standar higieni, sebagai upaya mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik pathogen dan mengurangi jasad renik lainnya agar hasil perikanan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia.
SSOP (Sanitation Standard Operating Prosedured) adalah Prosedur Pelaksanaan Sanitasi Standar yang harus dipenuhi oleh suatu UPI (Unit Pengolahan Ikan) untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap produk yang diolah. Tujuannya adalah untuk memastikan mutu produk dan menjamin tingkat dasar pengendalian keamanan pangan, serta meminimalisir kontaminasi.

Teknik Penerapan SSOP
Dalam prosedur pelaksanaan sanitasi standar (SSOP) terdapat 8 (delapan) kunci pokok persyaratan sanitasi, diantaranya:
1.      Keamanan Air dan Es
Beberapa hal yang harus diperhatikan tentang penggunaan air dan es:
-       Memenuhi standar air untuk minum dengan standar minimal tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa
-       Air berasal dari sumber yang tidak berbahaya, saluran pipa air dirancang agar tidak terjadi kontaminasi silang dengan air kotor
-       Apabila menggunakan air laut harus sesuai dengan persyaratan
-       Monitoring kualitas air dilakukan minimal 6 bulan 1 kali
-       Es terbuat dari air yang memenuhi syarat (tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa)
-       Dalam penggunaannya, es harus ditangani dan disimpan di tempat yang bersih agar terhindar dari kontaminasi.

2.      Kondisi dan kebersihan permukaan yang kontak dengan bahan pangan
Permukaan peralatan dan perlengkapan yang kontak dengan bahan baku dan produk akhir harus bebas dari lubang-lubang dan celah-celah, kedap air, tidak berkarat, tidak menyebabkan kontaminasi, tidak beracun, dan didesain sedemikian rupa sehingga air dapat mengalir dengan baik. Peralatan dan perlengkapan yang berhubungan dengan produk dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan serta dilakukan secara rutin dan periodic.Kondisi peralatan dan ruang pengolahan terawatt, bersih dan saniter, permukan halus, dapat dibersihkan dan disanitasi.
Bahan-bahan yang aman untuk digunakan harus memenuhi persyaratan sebagi berikut:
-       Non-toksin (tidak ada bahan kimia yang larut)
-       Non-absorbent (dapat dikeringkan)
-       Tahan karat
-       Tahan terhadap pembersihan dan bahan sanitasi
Sedangkan bahan yang harus dihindari adalah bahan-bahan yang terbuat dari bahan kayu dan besi.

3.      Pencegahan kontaminasi silang
Kontaminasi silang adalah transfer kontaminan biologi atau kimia terhadap produk pangan dari bahan baku, personel, atau lingkungan penanganan produk. Kontaminasi silang sering menyebabkan terjadinya keracunan terutama pada saat bakteri pathogen atau virus mencemari produk sipa konsumsi (read-to-eat). Pathogen yang dapat mengkontaminasi produk akhir dapat bersumber dari personil unit usaha, bahan baku, peraltan dan perlengkapan, dan lingkungan unit pengolahan.

4.      Menjaga fasilitas pencuci tangan, sanitasi, dan toilet
a.   Washtafel, toilet, dan fasilitas sanitasi
-       Washtafel minimal 1 buah untuk 10 karyawan, dekat pintu masuk, air harus mengalir, dan dilengkapi dengan fasilitas sanitasi (sabun antiseptic, pengering tangan)
-       Toilet sesuai dengan jumlah karyawan, berfungsi baik, tidak berhubungan langsung dengan ruangan penanganan dan pengolahan, dilengkapi dengan dengan fasilitas sanitasi.

b.   Ruang ganti karyawan, dan loker
-       Ruang ganti digunakan karyawan untuk ganti pakain kerja, tersedia dengan jumlah memadai, selalu dalam keadaan bersih.
-       Loker digunhakan untuk menyimpan pakaian kerja dan ganti karyawan serta peralatan pribadi karyawan, tersedia dalam jumlah yang cukup.
c.    Program mencuci tangan
Program mencuci tangan menjadi sangat penting Karen banyak karyawan (Pekerja/pengolah) yang tidak mencuci tangan secara rutin, dan memcuci tangan yang tidak dilakukan dengan benar.
Adapun cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut:
-       Melepas perhiasan;
-       Basahi tangan dengan air;
-       Gunakan sabun;
-       Bilas
-       Keringkan dengan lap atau pengering lainnya; dan
-       Hindari rekontaminasi.

5.      Proteksi dari bahan-bahan kontaminan
Semua bahan kimia, pembersih, dan saniter harus diber label dengan jelas, serta digunakan sesuai dengan persyaratan dan petunjuk yang dipersyaratkan.Bahan-bahan tersebut sebaiknya disimpan diruang khusus dan terpisah dengan ruang penyimpanan/pengolahan produk.Dalam penggunaannya pun harus ditunjuk petugas yang khusus bertanggung jawab dalam penanganan bahan kimia.

6.      Pelabelan, penyimpanan, dan penggunaan bahan toksin yang benar
Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa pelabelan, penyimpanan, dan penggunaan bahan toksin adalah benar untuk proteksi produk dari kontaminan. Bahan kimia dan bahan berbahaya diberi label yang jelas dan disimpan secara terpisah dalam wadah yang sama. Bahan-bahan ini digunakan sesuai dengan metode yang dipersyaratkan dan dilengkapi dengan tanda (label) yang dipersyaratkan.

7.      Pengawasan kondisi kesehatan personil
Tujuannya adalah untuk mengelola personil yang mempunyai tanda-tanda penyakit, luka atau kondisi lain yang dapat menjadi sumber kontaminasi mikrobiologi. Caranya adalah sebagai berikut;
-       Memonitor kesehatan pekerja secara periodic, pekerja yang sakit tidak diizinkan untuk bekerja. Bebrerapa jenis penyakit yang dapat mengkontaminasi diantaranya batuk/pilek, flu, diare, penyakit kulit.
-       Karyawan/pekerja penanganan, pengolahan, pengepakan harus mencuci tangan sebelum dan setelah bekerja.
-       Karyawan/pekerja harus menggunakan alat perlengkapan diri berupa pakaian kerja termasuk tutup kepala, masker, sepatu, sarung tangan.

8.      Pengendalian pest
Beberapa pest yang mungkin membawa penyakit diantaranya lalat dan kecoa, binatang pengerat, dan burung.Oleh karena itu, perlu disediakan fasilitas pengendalian binatang pengganggu (serangga, tikus, hewan peliharaan) yang berfungsi dengan efektif.



Cara-Cara Pengolahan Yang Baik/Good Manufacturing  Practices(GMP)
GMP adalah cara/teknik berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan produk yang benar memenuhi persyaratan keamanan dan mutu. Tujuan: (1) memastikan mutu produk dan menjamin tingkat dasar pengendalian keamanan pangan; dan (2) meminimalisir kontaminasi. GMP meliputi:
A.  Persyaratan Lokasi dan Bangunan
1.   Lokasi
-    Dekat dengan pasokan air (kecukupan dan mutu).
-    Terdapat pembuangan limbah.
-    Mudah dijangkau (kemudahan transportasi).
-    Bebas dari: pencemaran/sumber kontaminasi yang berasal dari: sawah/rawa, pembuangan kotoran/sampah, kepadatan penduduk, penumpukan barang bekas, pekarangan yang tidak terpelihara, sarang hama, sistem saluran pembuangan air yang kurang baik
2.      Bangunan
Umum:
-       Mudah dibersihkan dan dipelihara
-       Perencanaan bangunan sesuai persyaratan teknik dan higiene makanan yang diproduksi
-       Pemeriksaan mikrobiologi rutin
Tata ruang:
-       Terdiri dari ruang pokok dan ruang pelengkap yang terpisah
-       Luas sesuai jenis dan kapasitas produksi, jenis dan ukuran alat serta jumlah karyawan
-       Susunan diatur sesuai urutan proses produksi
Ruang- ruang (terpisah)
-       Beberapa Tahap Pengolahan Harus Dipisahkan: (a) pengolahan dingin – panas; (b) pengolahan kering – basah; dan (c) pengasapan dengan ruang pengolahan lainnya.
-       Ruang Penyimpanan Harus Terpisah dari Ruang Pengolahan: (a)Bahan bukan makanan harus disimpan jauh dari makanan; dan (b)Bahan kimia dan bahan berbahaya harus disimpan dalam ruang khusus yang terkunci.
Dinding dan Lantai:
-       permukaan lantai tahan air, garam, basa, asam atau bahan kimia lain
-       Permukaan bagian dalam halus, terang, tahan lama, mudah dibersihkan
-       Untuk ruang pengolahan/pembilasan mempunyai kelandaian cukup ke arah saluran pembuangan
-       Pertemuan antara lantai dan dinding tidak membentuk sudut mati (melengkung)

Atap dan langit-langit:
-       Bahan tahan lama, tahan air dan tidak bocor, tidak mudah terkelupas/rontok
-       Tidak berlubang atau retak, Mudah dibersihkan, Tinggi dari lantai minimal 3 meter
-       Permukaan dalam halus, rata, berwarna terang, Rapat air
Pintu dan Jendela:
-       Terbuat dari bahan yang tahan lama
-       Permukaan rata, halus, terang dan mudah dibersihkan
-       Dapat ditutup dengan baik
-       Pintu ruang pokok membuka keluar: aliran udara hanya dari dalam ruangan keluar, bukan sebaliknya
-       Tinggi jendela minimal 1 meter dari lantai
Penerangan
-       ruangan harus terang sesuai keperluan dan persyaratan kesehatan
Ventilasi dan pengatur suhu
-       Menjamin peredaran udara baik, dapat menghilangkan uap, gas, debu dan panas
-       Dapat mengatur suhu yang diperlukan
-       Tidak mencemari hasil produksi
-       Terdapat alat yang dapat mencegah masuknya serangga/kotoran
-       Mudah dibersihkan

3.      Fasilitas Sanitasi
Bangunan dilengkapi fasilitas sanitasi, memenuhi persyaratan teknik dan hygiene:
-       Sarana penyediaan air: Bangunan dilengkapi sarana penyediaan air yang terdiri dari sumber air, perpipaan, tempat persediaan air
-       Sarana pembuangan: (a) Bangunan dilengkapi saluran pembuangan, dan (b) Dapat mengolah/membuang limbah padat, cair dan/atau gas yang dapat mencemari lingkungan
-       Sarana toilet: (a) Letak tidak langsung ke ruang  pengolahan; (b) Dilengkapi bak cuci tangan; dan (c) Jumlah cukup sesuai jumlah karyawan
-       Sarana cuci tangan: (a) Pada tempat-tempat yang diperlukan; (b) Air mengalir, dilengkapi sabun, alat  pengering dan tempat sampah; dan (c) Jumlah cukup sesuai jumlah karyawan.

B.   Persyaratan Operasional
1.   Seleksi bahan baku
-       asal sumber bahan baku
-       jenis dan ukuran
-       mutu (sesuai dengan standar)
-       jenis olahan (produk akhir)
-       Bahan baku dalam keadaan segar dan bersih
-       Berasal dari perairan yang tidak tercemar
-       Bebas dari bau yg menandakan kebusukan (dekomposisi)

2.   Penanganan dan pengolahan
-       waktu/kecepatan
-       temperatur
-       teknologi (segar, beku, kaleng, kering, dll)
-       alat dan perlengkapan sesuai persyaratan teknik dan higiene
-       peralatan sesuai dengan jenis produksi
-       permukaan peralatan yang kontak dengan makanan halus, tidak berlubang, mengelupas menyerap atau berkarat

3.   Bahan pembantu dan bahan kimia
-       bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong tidak merugikan atau membahayakan kesehatan dan memenuhi standar mutu
-       bahan yang akan digunakan harus diuji (organoleptik, fisik, kimia dan mikrobiologi)

4.   Pengemasan
-       dapat melindungi dan mempertahankan mutu dari pengaruh luar
-       tidak berpengaruh terhadap isi
-       bahan tidak dapat mengganggu atau mempengaruhi mutu
-       dapat menjamin keutuhan dan keaslian isi
-       tahan terhadap perlakuan selama pengolahan, pengangkutan dan peredaran
-       tidak merugikan atau membahayakan konsumen
-       bersih dan saniter atau steril
-       Menggunakan kemasan food grade, dilakukan secara cepat, cermat dan saniter
-       Kemasan disimpan di gudang tersendiri dan terlindung dari debu dan kontaminasi
-       Produk dikemas menggunakan kemasan yang saniter, tertutup dan dilengkapi dengan label yang mencantumkan informasi tentang produk

5.   Penyimpanan
Bahan dan Hasil Produksi
-       disimpan terpisah, bersih, bebas serangga, binatang pengerat dan /atau binatang lain
-       ditandai dan ditempatkan secara jelas, misal: sesuai/tidak sesuai standar, sudah/ belum diperiksa
-       penyimpanan menggunakan sistem kartu, identitas jelas: nama, tgl penerimaan, jumlah, asal, tgl dan jumlah pengeluaran, tgl dan hasil pemeriksaan, dll.
Bahan Berbahaya
-       Insektisida, rodentisida, desinfektan dan bahan mudah meledak disimpan terpisah, diawasi hingga tidak membahayakan atau mencemari.

6.   Distribusi
-       Jenis Produk: distribusi untuk produk kering berbeda dengan produk basah.
-       Jenis  alat angkut: produk basah harus didistribusi menggunakan sarana transportasi berpendingin.
-       Kondisi Penyimpanan: kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan produk yang didistribusi.



SUMBER:
Anonim, 1989. Petunjuk Praktis Penanganan dan Transportasi Ikan Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan,  Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Penanganan Tuna Loin Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Transportasi Ikan Hidup Dengan Cara Dipingsankan. Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta
Anonim, 2007. Juknis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Sanitasi Higiene di Unit Pengolahan Ikan. Direktorat Pengolahan Hasil. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Undang-Undang RI No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Keputusan Menteri KP No 10 Tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan

Keputusan Menteru KP No 52A Tahun 2013 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Kemanana Hasil Perikanan Pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi.