Kamis, 12 Juli 2018

Culture Based Fisheries (CBF) Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus)

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi
Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) adalah ikan ekonomis penting di perairan tawar yang dapat dijadikan komoditas pangan baik untuk keperluan domestik maupun ekspor. Pulau Jawa memiliki perairan waduk sekitar 90 persen dari luas total waduk di Indonesia. Populasi ikan asli di perairan waduk yang berasal dari sungai yang dibendungnya pada umumnya akan mengalami penurunan pada beberapa tahun setelah waduk terbentuk karena ikan asli sungai di habitat mengalir tidak dapat beradaptasi dengan habitat baru yang berupa perairan tergenang (waduk). Salah satu jenis ikan asli yang hilang dari Waduk Gajahmungkur adalah ikan patin jambal (Pangasius djambal) karena jalur ruaya ikan ini ke habitat pemijahannya terputus oleh pembendungan sungai Bengawan Solo. Oleh karena itu, peningkatan produksi ikan di waduk dapat dilakukan melalui penerapan teknologi Culture Based Fisheries (CBF) yang tepat. Tujuan penerapan teknologi CBF ikan patin siam ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikan di suatu badan air dengan cara memanfaatkan sumber daya makanan alami dan habitat (niche ecology) yang masih kosong. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi ikan ini akan bermanfaat dalam rangka meningkatkan p e n d a p a t a n d a n kesejahteraan masyarakat nelayan dan masyarakat selingkar di badan air
Gambar 1. Ikan Patin Siam tersebut.
Pengertian - Definisi Culture Based Fisheries (CBF) atau Perikanan Tangkap Berbasis Budidaya adalah kegiatan perikanan tangkap dimana ikan hasil tangkapan berasal dari benih ikan hasil budidaya yang ditebarkan ke dalam badan air, dan benih ikan yang ditebarkan akan tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia. Penebaran benih ikan umumnya dilakukan secara rutin karena ikan hanya tumbuh dan tidak diharapkan berkembang biak. Oleh karena itu, ketersediaan benih ikan patin siam dari hasil pembenihan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan CBF. CBF ikan patin siam di Waduk Gajahmungkur mempunyai karakteristik tersendiri karena ikan patin yang ditebarkan selain tumbuh pesat dengan memanfaatkan makanan alami juga dapat berkembang biak di muara Sungai Keduwang dan Tirtomoyo yang masuk waduk karena menggantikan peran ikan patin jambal yang hilang.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persaratan Teknis Penerapan Teknologi CBF
(1) Badan air yang akan digunakan untuk penerapan CBF ikan patin siam harus memiliki: kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan patin; sumber daya makanan alami yang berupa plankton, benthos, detritus; potensi produksi ikan yang tinggi (minimal 200 kg/ha/th); volume air tersedia sepanjang tahun, kedalaman air ratarata minimal 2 meter.
(2) Benih ikan patin siam yang akan ditebarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: kualitas dan kuantitasnya memadai (karena ada pembenih yang menghasilkan benih patin dengan pertumbuhan lambat, jumlahnya tersedia untuk penebaran dengan kepadatan antara 100-200 ekor/ha tergantung pada sumberdaya makanan alami yang tersedia); dapat memanfaatkan sumber daya makanan alami yang tersedia; dan tidak bersifat invasif (tidak berdampak negatif) terhadap jenis ikan asli.
(3) Pembenihan ikan patin siam tersedia dengan jarak tempuh yang relatif dekat dengan badan air yang akan ditebari dan telah berproduksi secara reguler serta menghasilkan benih dengan kualitas baik bebas dari hama dan penyakit. Jika pembenihan ikan patin belum tersedia maka perlu dibangun di sekitar lokasi badan air yang akan ditebari.
(4) Hasil tangkapan ikan di badan air yang akan ditebari masih rendah jauh di bawah potensi produksi ikan lestarinya; alat tangkap yang digunakan (gill net) untuk menangkap ikan patin ukuran konsumsi (>500 gram) berukuran mata jaring > 3,5 inci.
(5) Kelompok nelayan sebagai unsur pengelola perikanan utama sudah ada atau mudah dibentuk; berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan perikanan.
Uraian lengkap dan rinci SOP
Tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan teknologi CBF ikan Patin siam adalah sebagai berikut:
(1) Identifikasi potensi kesesuaian badan air untuk perkembangan ikan patin yang meliputi: luasan dan volume air serta kedalaman air; kualitas air; jenis dan kelimpahan sumber daya makanan alami; komposisi jenis ikan asli; estimasi potensi produksi ikan.
(2) Identifikasi Pembenihan Ikan Patin Siam yang meliputi: jumlah dan kualitas benih yang dihasilkan; waktu produksi; jarak tempuh ke badan air yang akan ditebari; dan sarana pendukung lainnya, seperti: alat dan cara pengemasan benih serta alat transportasinya. Jika pembenihan ikan patin siam belum tersedia dan jarak tempuh ke lokasi badan aiar yang akan ditebari sangat jauh maka perlu dibangun pembenihan ikan patin di sekitar lokasi badan air tersebut.
(3) Identifikasi kegiatan perikanan yang meliputi: jumlah nelayan; jenis dan jumlah alat tangkap, jenis, komposisi dan jumlah hasil tangkapan ikan.
(4) Identifikasi biaya yang diperlukan untuk kegiatan penebaran ikan patin dan peluang keberhasilannya.
(5) Identifikasi kelembagaan di mayarakat sekitar badan air: jumlah atau ketersediaan kelompok nelayan; kelompok pengawas; kelompok usaha perikanan lainnya. Jika kelompok belum terbentuk perlu diidentifikasi peluang keberhasilan pembentukkannya.
(6) Perencanaan pengembangan pengelolaan perikanan secara bersama (komanajemen). Pemerintah cq Dinas Perikanan setempat berperan sebagai fasilitator dan regulator sedangkan kelompok nelayan berperan sebagai pelaksana pengelolaan perikanan di badan air yang bersangkutan.
(7) Monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan pada perencanaan, selama dan setelah penerapan teknologi CBF ikan patin, dan dari hasil monitoring dilakukan evaluasi untuk mengkaji keberhasilan ataupun kegagalan penerapan teknologinya. Monitoring hasil tangkapan dilakukan oleh kelompok nelayan sedangkan evaluasinya dilakukan bersama antara pemerintah dengan kelompok pengelola perikanan, khususnya kelompok nelayan.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Teknologi CBF ikan patin siam adalah teknologi yang baru diterapkan di beberapa perairan waduk (Waduk Ir. H. Djuanda di Jawa Barat, Waduk Gajahmungkur dan Malahayu di Jawa Tengah) di Pulau Jawa dengan benar, berdasarkan pada hasil kajian ilmiah yang memadai sejak tahun 1999. Pada prinsipnya penerapan CBF di waduk tersebut didasarkan pada hasil penelitian mengenai
Gambar 2. Penebaran Benih Ikan Patin Siam bio-ekologi sumberdaya ikan yang meliputi relung makanan, kondisi habitat/lingkungan, kesuburan perairan dan trophik level sumberdaya ikan serta aspek perikanan.
Dari hasil penelitian ini akan dihasilkan jenis ikan yang sesuai dan jumlah benih optimum yang harus ditebar serta ikan tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap jenis ikan asli. Jenis ikan yang sesuai untuk diintroduksikan adalah ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Teknologi ini jika diterapkan di badan air lain perlu dimodifikasi terlebih dahulu disesuaikan dengan persyaratan teknis yang telah diuraikan pada bab terdahulu. Kegiatan penebaran benih ikan di perairan waduk Indonesia telah lama dilakukan, pada umumnya sama tuanya dengan selesainya pembangunan waduk tersebut. Namun hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut umumnya masih sangat minim. Penerapan teknologi CBF ikan patin siam merupakan teknologi yang unggul dengan alasan sebagai berikut: (1) sangat efisien, karena ikan patin tumbuh hanya dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia dan sisa pakan yang terbuang dari budidaya ikan dalam KJA; (2) ekonomis: karena pendapatan nelayan meningkat dengan harga jual ikan patin lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya; mudah dipasarkan karena pembeli (pedagang pengecer) datang sendiri ke tempat pelelangan ikan; dan ikan patin menjadi komoditas unggulan masyarakat nelayan setempat; (3) layak: teknologi CBF layak untuk dikembangkan di perairan waduk dengan karakteristik yang sejenis.
Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan Teknologi CBF sangat mudah diterapkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar waduk (badan air) karena sangat sederhana dan praktis. Masyarakat nelayan sebagai ujung tombak pelaksana pengelolaan cukup diarahkan untuk memahami persyaratan teknis pengembangan CBF dan bagaimana melakukan pengelolaan dan monitoring serta evaluasinya. Keberlanjutan pengelolaan sumber daya ikan akan berhasil jika masyarakat nelayan sudah membentuk kelompok sehingga semua peraturan yang dibuat dapat dipatuhi dan dilaksanakan.
Ramah lingkungan
Teknologi CBF sangat ramah lingkungan karena ikan yang ditebarkan hanya tumbuh dengan memanfaatkan kesuburan perairan, tidak ada makanan tambahan dari luar yang berpotensi menyuburkan perairan, ikan patin tidak bersifat invasif terhadap ikan asli. Ikan patin juga ikut beriur dalam memanfaatkan sisa makanan dari budidaya KJA yang jika tidak dimakan ikan patin berpotensi terhadap penurunan kualitas air waduk.
Gambar 3. Tagging Benih Ikan Patin Siam
Gambar 4. Pertumbuhan Ikan Patin Siam
Gambar 5. Jenis makanan Ikan Patin Siam
Gambar 6. Penjualan Hasil Tangkapan Patin Siam
Gambar 7. Produksi Tangkapan Ikan Patin Siam W A K T U D A N L O K A S I PENELITIAN, DAERAH YANG DIREKOMENDASIKAN
Penelitian terhadap CBF ikan patin siam telah dilaksanakan di Waduk Ir. H. Djuanda (2000 – 2002), Gajah Mungkur (1999 – 2003) dan Malahayu (2009 – 2010). Pada ketiga waduk tersebut ikan patin siam yang ditebar menunjukkan pertumbuhan yang positif serta memberikan peningkatan pendapatan mata pencaharian nelayan waduk. Keberhasilan lebih CBF ikan patin siam terjadi di Waduk Gajah Mungkur, dimana patin siam tersebut dapat memijah dengan baik.
Pada tahun 2010 dilaksanakan IPTEKMAS CBF ikan patin siam di Waduk Gajah Mungkur dan Malahayu d e n g a n t u j u a n m e m b e r i k a n pendampingan sekaligus diseminasi IPTEK pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan, serta penguatan kapasitas kelembagaan. perairan waduk terutama di Pulau Jawa dan perairan embung (waduk kecil) yang banyak tersebar di Nusa Tenggara dan Sulawesi yang jumlahnya mencapai lebih dari 800 buah dan sampai saat ini merupakan lahan sub optimal yang belum dimanfaatkan untuk perikanan. Teknologi CBF ini tidak direkomendasikan diterapkan di perairan danau atau waduk yang mempunyai keanekaragaman jenis ikan asli yang tinggi dan terdapat jenis ikan endemik dan atau ikan langka yang perlu dilindungi.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Penerapan teknologi CBF ikan patin siam dapat berdampak negatif terhadap penurunan keanekaragaman ikan asli jika ikan yang ditebarkan berkompetisi dengan ikan asli. Apalagi jika di Pada prinsipnya, penerapan teknologi CBF dapat dilakukan di perairan waduk dan danau di Indonesia. Namun demikian, agar resiko dampak negatif dari ikan yang ditebarkan terhadap jenis ikan asli tidak terjadi, maka p e n e r a p a n t e k n o l o g i C B F direkomendasikan untuk dilakukan di
Gambar 8 Peta Zonasi Perikanan di W. Gajahmungkur
Gambar 9 Suaka Induk Patin Siam di Kawasan KJA
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI badan air yang bersangkutan terdapat jenis ikan endemik atau jenis ikan langka yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
KELAYAKAN FI NAN S IAL DAN ANALISA USAHA
Contoh kelayakan financial dan analisis usaha CBF ikan patin siam di Waduk Gajahmungkur adalah sebagai berikut. Jumlah benih ikan patin siam yang ditebarkan sejak tahun 1999-2002 adalah 30.000 ekor. Harga benih pada saat itu adalah 200 rupiah per ekor, sehingga total biaya yang diperlukan untuk pengadaan benih hanya 6.000.000 rupiah. Ikan patin tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami (plankton, detritus, moluska) berkisar antara 8,7-13,1 gram per hari. Pada tahun 2004, hasil tangkapan ikan patin siam mencapai 112.215 kg atau setara dengan 785,5 juta rupiah. Hasil tangkapan ikan patin siam terus meningkat dan pada tahun 2009 mencapai 191.210 kg atau senilai 2,1 milyar rupiah (harga rata-rata patin 11.000 rupiah/kg) dimana hasil tangkapan patin menempati urutan ke dua dari total hasil tangkapan ikan di perairan waduk tersebut.
Ikan patin siam yang digunakan dalam penerapan teknologi ini semula didatangkan dari Thailand pada tahun 1972 sebagai kandidat komoditas budidaya. Dewasa ini, pembenihan ikan patin siam di Indonesia sudah berkembang baik sehingga benihnya mudah didapat dan benih patin siam yang digunakan pada waktu penebaran di Waduk Gajahmungkur, Ir. H. Djuanda dan Malahayu merupakan hasil pembenihan masyarakat di Sukamandi. Oleh karena itu, seluruh komponen yang digunakan dalam penerapan teknologi CBF ini adalah komponen dalam negeri.
Sumber:
Kartamihardja E. S., dkk. 2013. Culture Based Fisheries (CBF) Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus). Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Rabu, 11 Juli 2018

Test Kit Histakit untuk Menguji Kandungan Histamin pada Produk Perikanan

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Pada beberapa jenis ikan, khususnya dari famili skombroidae yang memiliki daging merah, kerusakan oleh aktivitas bakteri maupun enzim dapat menghasilkan racun yang disebut skombrotoksin. Skombrotoksin adalah toksin yang dihasilkan oleh aktifitas bakteri terutama pada ikan-ikan famili skombroidae seperti tuna, cakalang, tongkol, marlin, mackerel dan sejenisnya. Senyawa yang bersifat racun tersebut adalah histamin atau 2-(1H-imidazol-4-yl)ethanamine, yang merupakan suatu senyawa hasil perombakan asam amino bebas histidin.
 Kandungan histamin pada ikan yang masih segar umumnya di bawah 10 mg/100 g, pada kadar histamin antara 50 – 100 mg/100 g, ikan umumnya sudah dianggap berbahaya dan dapat mengakibatkan keracunan pada orang yang peka. Bila histamin telah terbentuk dalam pangan sewaktu proses penanganan, maka histamin tidak dapat hilang atau berkurang walaupun bahan pangan telah diproses lebih lanjut atau dimasak pada suhu tinggi, sehingga potensial membahayakan kesehatan manusia. Beberapa negara telah menetapkan batasan kandungan histamin pada produk-produk perikanannya, misalnya Amerika Serikat, Swedia dan Chekoslovakia menetapkan kandungan histamin maksimal 50 mg/100 g sedangkan Uni Eropa (UE) menetapkan batas maksimal kandungan histamin pada bahan makanan sebesar 20 mg/100 g.
 Test Kit Uji Kandungan Histamin didesain sebagai peralatan uji sederhana dan mudah yang dapat dapat digunakan mendeteksi keberadaan histamin pada bahan makanan, termasuk produk perikanan, baik bentuk padat atau cair sehingga dapat dengan mudah digunakan para personil badan pengawasan mutu untuk pengawasan mutu (kandungan histamin), khususnya ikan yang berdaging merah.
 Test Kit Uji Kandungan Histamin dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan histamin pada bahan uji dengan minimal deteksi 20 ppm sehingga dapat direkomendasikan sebagai alat uji cepat kandungan histamin karena level deteksinya memenuhi standar bahan makanan (khususnya ikan atau sefood) menurut standar Uni Eropa.
 Dengan metode pewarnaan yang digunakan dalam alat ini maka tidak diperlukan instrumentasi dan keahlian khusus dalam menggunakan Test Kit Uji Kandungan Histamin.
 Dengan Test Kit Uji Kandungan Histamin maka bea analisis histamin dapat ditekan karena Test Kit Histamin ini dapat diproduksi dengan harga yang lebih murah dari produk serupa (50% dari harga test kit serupa). Harga test kit histamine dari luar negeri berkisar 4-5 juta rupiah untuk 100 kali uji sedangkan harga Test Kit Uji Kandungan Histamin (HistakitTM) hanya 1 juta rupiah untuk 50 kali uji.
PENGERTIAN
- Test Kit Uji Kandungan Histamin (HistakitTM) Satu set test kit untuk mendeteksi kandungan histamin pada produk makanan berbentuk padat atau cairan yang berupa kemasan berisi tiga botol reagen; Reagen A Reagen B, dan Reagen C; satu pak bebuahrisi 5 kolom silica SampliQ Si-SCX; satu buah botol kaca bening untuk pengujian dan dilengkapi dengan satu syringe dengan volume 5-10 ml untuk mengambil larutan uji dalam jumlah yang diinginkan.
- Reagen Cairan larutan kimia yang disediakan dalam satu kemasan tertentu pada Test Kit Uji Kandungan Histamin.
- ppm Satuan konsentrasi yang menunjukkan jumlah 1 bagian ukuran bahan tersebut per 1.000.000 bagian ukuran bahan uji.
- Histamin Senyawa yang bersifat racun yang dalam bahasa inggris disebut histamin atau 2-(1H-imidazol-4yl)ethanamine, yang merupakan suatu senyawa hasil perombakan asam amino bebas histidin yang biasanya ada pada kelompok ikan skombroid seperti tuna, cakalang, marlin, dan sardin, maupun yang termasuk dalam kelompok nonskombroid seperti mahi-mahi (Coryphaena hippurus) dan dolpin. Histidin diubah menjadi histamin oleh enzim histidine decarboxylase yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri pembentuk histamin.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Rincian pengujian kandungan histamin mengunakan histakit
Persiapan reagen uji (untuk 5 kali pengujian)
 Sebanyak 10 tetes (±0,5 ml) Reagen A dan 10 tetes (±0,5 ml) Reagen B dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu dikocok sebentar dan dibiarkan 5 menit dalam wadah yang berisi es curah untuk mendinginkan.
 Selanjutnya ditambahkan 1,2 ml Reagen B dan setelah 5 menit lalu ditambahkan aquades (air aqua) dingin sampai volume 10 ml dan dibiarkan dalam wadah berisi es selama 15 menit sebelum digunakan. Reagen ini disebut Reagen uji.
 Reagen harus disimpan dalam almari es jika tidak langsung digunakan (pada suhu rendah dapat bertahan selama 12 jam).
Ekstraksi histamin dari bahan uji
Ekstraksi histamin dari bahan ikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan Tri Chloro Acetic Acid (TCA) atau dengan metanol.
Ekstraksi menggunakan TCA
1. Daging ikan (bahan uji) ditimbang sebanyak 10 gram dan di tambah dengan 100ml TCA 2,5% kemudian diblender sampai homogen
2. Larutan disaring dengan kertas saring Whatman No.1
3. Filtrat dinetralkan dengan KOH 1N sampai pH 7 menggunakan kertas pH
4. Sebanyak 5 ml filtrat dimasukkan ke dalam cartridge SampliQ dan dibiarkan terelusi(tidak ditampung)
5. Bilas cartridge dengan 4 ml buffer asetat (tidak ditampung)
6. Cartridge dielusi dengan 3 ml HCl 0,2N, hasil elusi ditampung (elusi dilakukan 3 kali,selanjutnya hasil tampungan ini disebut EKSTRAK SAMPEL)
Ekstraksi menggunakan Metanol
1. Daging ikan (bahan uji) ditimbang sebanyak 10 gram dan ditambah dengan 100 mlMetanol dan diblender sampai homogen
2. Larutan disaring dengan kertas saring Whatman No.1
3. Filtrat dinetralkan dengan KOH 1N sampai pH 7 (cek dengan kertas pH)
4. Selama 5 ml ekstrak hasil saringan ke dalam cartridge SampliQ dan dibiarkan terelusi(tidak ditampung)
5. Cartridge dibilas dengan 4 ml buffer asetat (tidak ditampung)
6. Cartridge dielusi dengan 3 ml HCl 0,2N, hasil elusi ditampung (elusi dilakukansebanyak 3 kali, selanjutnya hasil tampungan ini disebut EKSTRAK SAMPEL)
Pengujian adanya histamin
1. Sebanyak 5 ml Reagen C dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah dengan2 ml Reagent uji secara perlahan
2. Diambahkan 1 ml EKSTRAK SAMPEL kemudian dikocok perlahan dan dibiarkan selama 15 menit pada suhu ruang sambil diamati perubahan warna yang terjadi. Warna merah muda sampai merah bata yang terbentuk merupakan indikasi keberadaan histamin pada bahan yang diuji. Prediksi konsentrasi histamin dalam bahan uji dapat dilakukan dengan membandingkan intensitas warna yang terjadi dengan warna yang diperoleh jika menggunakan larutan standar histamine. Prediksi kasar juga dapat dilakukan dengan membandingkan warna yang terbentuk dengan tabel warna dari beberapa konsentrasi yang disertakan dalam paket test kit histamin.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI 1. Test Kit Histamin ini dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah dari produkserupa. 2. Dapat digunakan dengan mudah dan uji semi kuantitatif kandungan histamin dapat dilakukan lebih cepat (butuh waktu sekitar 1 jam). 3. Dapat mendeteksi sampai level kandungan histamin 20 ppm sehingga dapatdirekomendasikan sebagai alat uji cepat kandungan histamin karena level deteksinya memenuhi standar bahan makanan (khususnya ikan atau seafood) menurut standar Uni Eropa. 4. Dapat menguji semi kuantitatif kandungan histamin lebih cepat (butuh waktu sekitar 1 jam). 5. Dengan aplikasi silica SampliQ Si-SCX saat preparasi maka analisis histamin akanlebih akurat. 6. Tidak memerlukan investasi peralatan uji seperti GC/LC, spektrofotometri ataufluorometri yang memerlukan keahlian khusus dan bea perawatan alat yang sangat mahal
LOKASI REKOMENDASI
Teknologi ini direkomendasikan digunakan di daerah sentra produksi ikan pelagis besar, khususnya tuna, untuk menjaga kualitas ikan yang didaratkan. Pada industri-industri pengolahan ikan yang berbahan baku ikan pelagis besar, test kit ini dapat digunakan sebagai skrining awal pada bahan baku yang akan diuji secara kuantitatif di laboratorium, karena uji tes kit ini bersifat semi kuantitatif.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Tidak ada dampak negatif karena pengujian tidak merusak produk yang diuji, dan test kit tidak membahayakan penguji.
KELAYAKAN FINANSIAL
 Biaya pengujian kualitatif/semi kuantitatif histamin pada laboratorium uji berkisar Rp. 100.000,00 – Rp. 200.000,00 dan cukup besar jika bahan yang akan diuji jumlahnya banyak. Dengan menggunakan Tes Kit Uji Kandungan Histamin (HistakitTM) dengan harga Rp. 1.000.000,00 untuk 50 sampel maka bea analisis histamin yang diperlukan hanya Rp. 20.000,00 per sampel.
 Test Kit Histamin ini dapat diproduksi dengan harga yang lebih murah dari produk serupa. Harga test kit histamin dari luar negeri berkisar 4-5 juta untuk 100 kali uji sedangkan harga Test Kit Uji Kandungan Histamin (HistakitTM) hanya 1 juta untuk 50 kali uji. Komponen termahal adalah kolom SampliQ Si-SCX yang masih harus diimpor.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Sekitar 50% bahan yang digunakan untuk pembuatan Test Kit Uji Kandungan Histamin (HistakitTM) dapat diproduksi di Indonesia sehingga 50% produk ini dapat menggunakan komponen dalam negeri.
SPESIFIKASI
Test kit uji ini berupa satu set test kit untuk mendeteksi residu histamin pada makanan dalam bentuk padat atau cairan, yang terdiri atas tiga botol reagen; Reagen A dengan botol volume 5-7 ml yang berisi larutan sulfanilic acid 0,9% dalam HCl 4% (w/v), Reagen B dengan botol volume 10-12 ml yang berisi larutan sodium nitrite 5% (w/v), Reagen C dengan botol volume 100-110 ml yang berisi larutan sodium karbonat 1,1% (w/v); satu pak kolom silica SampliQ SiSCX (5 pcs); 1 buah b otol kaca b e n i n g u n t u k p e n g u j i a n d a n dilengkapi dengan satu syringe dengan v o l u m e 5 - 1 0 m l untuk mengambil larutan uji dalam jumlah tertentu serta 1 lembar petunjuk c a r a p e n g u j i a n , s e h i n g g a d a p a t digunakan untuk pengujian histamin di laboratorium tanpa h a r u s d i d u k u n g k e t e r s e d i a a n Gambar 1. Tes kit uji histamin p e r a l a t a n spektrofotometer, spektrofluorometer atau GC atau pun HPLC. Test kit ini dapat digunakan untuk menganalisis 50 sampel. Satu set test kit untuk mendeteksi kandungan histamin pada produk makanan berbentuk padat atau cairan yang terdiri atas tiga botol reagen; Reagen A dengan botol volume 5-7 ml yang berisi larutan sulfanilic acid 0,9% dalam HCl 4% (w/v), Reagen B dengan botol volume 10-12 ml yang berisi larutan sodium nitrite 5% (w/v), Reagen C dengan botol volume 100-110 ml yang berisi larutan sodium karbonat 1,1% (w/v); satu pak kolom silica SampliQ Si-SCX (5 pcs); 1 buah botol kaca bening untuk pengujian dan dilengkapi dengan satu syring dengan volume 5-10 ml untuk mengambil larutan uji dalam jumlah tertentu.
Sumber:
Riyanto R., dan Dwiyitno, 2013. Test Kit Histakit untuk Menguji Kandungan Histamin pada Produk Perikanan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta

Senin, 09 Juli 2018

Test Kit Antirax untuk Menguji Residu Boraks pada Produk Perikanan

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Test Kit Uji Residu Boraks (Antirax) dirancang sebagai peralatan uji sederhana dan mudah yang dapat digunakan mendeteksi keberadaan boraks pada bahan makanan (padat atau cair), sehingga dapat dengan mudah digunakan para personil pengawasan mutu untuk skrining awal keberadaan borak pada produk pangan.
Test Kit Uji Residu Boraks (Antirax) dapat mendeteksi keberadaan boraks pada bahan uji cair dengan minimal deteksi 50 ppm sedangkan untuk bahan uji makanan padat limit deteksinya adalah 100 ppm. Dengan metode pewarnaan yang digunakan dalam alat ini maka tidak diperlukan instrumentasi dan keahlian khusus dalam menguji residu boraks. Dan bersarkan hasil uji penyimpanan diketahui bahwa kertas turmeric yang merupakan komponen utama penguji dalam test kit dapat tahan dismpan selama 4 bulan.
PENGERTIAN
 Test Kit Uji Residu Boraks (Antirax) Set test kit untuk mendeteksi adanya boraks pada produk makanan berbentuk padat atau cairan berupa kemasan yang berisi dua botol reagen masing-masing yaitu Reagen A, Reagen B, satu pak kertas turmeric berisi 20 lembar, dan satu syringe dengan volume 10 ml untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu.
 Kertas Turmeric Kertas saring yang dipotong-potong dengan ukuran 1 x 5 cm yang telah direndam dalam larutan curcumin.
 Boraks Suatu senyawa garam natrium (Na2B4O7.10H2O) yang larut air dan banyak digunakan untuk memperbaiki tekstur produk-produk perikanan, seperti bakso ikan, kerupuk, siomay dll. Di samping itu, boraks juga banyak digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Masyarakat Jawa sering menyebut senyawa ini sebagai 'Bleng'.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Rincian cara pengujian borax menggunakan test kit Antirax adalah sebagai berikut :
1. Bahan (sampel) yang akan diuji harus dihaluskan terlebih dahulu atau diblender (dapat ditambahkan sedikit air jika diperlukan)
2. Bahan uji yang sudah diblender lalu diambil ±10 gram (satu sendok makan) kemudianditambahkan air (± 50 ml, sekitar 10 sendok makan), kemudian dipanaskan sekitar 5 menit.
3. Sampel yang telah dingin kemudian ditambah dengan reagen A sebanyak 3 ml dandikocok sekitar 1-2 menit. Selanjutnya kertas turmeric dicelupkan ke dalam larutan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
4. Jika warna kertas turmeric yang tercelup berubah menjadi kemerahan atau merah bataberarti bahan uji terindikasi mengandung boraks. Untuk memastikan hasil uji, kertas turmeric yang tercelup dan berubah warna tadi lalu ditetesi Reagen B dan jika terjadi perubahan warna dari merah menjadi hijau-kebiruan berarti boraks dinyatakan positif ditemukan dalam bahan yang diuji. (Cara pengujian ini disertakan dalam kemasan Test Kit)
Keterangan Tambahan:
Untuk pengujian produk berbentuk cairan, tidak perlu dilakukan preparasi bahan uji. Untuk pengujian bahan uji diambil sebanyak 50 ml dan prosedur pengujian langsung dimulai dari nomor 3 sampai selesai.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
1. Tingkat akurasi uji yang cukup tinggi (mendeteksi sampai 50 ppm) dan spesifikuntuk menguji boraks
2. Praktis dalam penggunaan sehingga dapat digunakan oleh setiap orang
3. Waktu analisis singkat (10 – 15 menit)
4. Tidak memerlukan instrumentasi dalam analisisnya
5. Membantu dan memudahkan proses pengujian kandungan boraks pada bahanpangan (padat atau cair) dalam rangka pengendalian dan pengawasan penyalahgunaan boraks di industri pangan
6. Menekan biaya analisis boraks yang harus dikeluarkan (biaya pengujian kualitatif boraks berkisar Rp. 30.000,00 – Rp. 60.000,00) menjadi hanya Rp. 7.500,00 per sampel.
LOKASI REKOMENDASI
Antirax mudah dan praktis digunakan bahkan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan analisis laboratorium sehingga mudah digunakan oleh siapa saja di lapangan. Sebagai salah satu alat (tool) untuk mengawasi terjadinya penyimpangan penggunaan bahan berbahaya boraks pada produk perikanan, Antirax dapat digunakan oleh para praktisi pengawas mutu produk perikanan atau para penyuluh serta masyarakat pengolahan produk perikanan dalam membantu membrantas praktek penyalah-gunaan boraks pada produk perikanan. Tempattempat yang penting dimonitor menggunakan test kit ini adalah daerah sentra pengolahan ikan berupa produk yang diharapkan mempunyai tekstur yang kenyal seperti bakso ikan, sosis ikan, nuget ikan, dan sebagainya.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Tidak ada karena pengujian tidak merusak produk yang diuji, dan test kit tidak membahayakan penguji
KELAYAKAN FINANSIAL
Biaya pengujian kualitatif boraks pada laboratorium uji berkisar Rp. 30.000 – Rp. 60.000 per contoh. Sedangkan dengan menggunakan Test Kit Uji Residu Boraks (Antirax) adalah Rp. 150.000 untuk 20 sampel maka biaya analisis boraks yang diperlukan hanya Rp. 7.500 per sampel.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI Produk ini dibuat seluruhnya menggunakan komponen dalam negeri.
Spesifikasi
Formula test kit boraks terdiri dari asam klorida dengan air sebagai pelarut, ammonium hidroksida dan kertas turmeric (kertas kuning). Kertas turmeric berasal dari kertas saring Whatman No 1 yang dipotong-potong dengan ukuran 1 x 5 cm kemudian direndam dalam larutan 1% curcumin dalam etanol 80% selama 1 jam, kemudian dikeringkan dalam oven 50 C sampai kering dan o selanjutnya disimpan dalam wadah tertutup bebas sinar matahari. Tes kit ini dapat digunakan untuk 20 kali pengujian sampel.
Sumber:
Murtini J. T., Heruwati E.S., dan Riyanto R., 2013. Test Kit Antirax untuk Menguji Residu Boraks pada Produk Perikanan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Rabu, 04 Juli 2018

Test Kit Antilin Untuk Uji Residu Formalin pada Produk Perikanan

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Test Kit Uji Residu Formalin adalah seperangkat alat untuk pengujian cepat kandungan formalin pada bahan uji makanan atau minuman, termasuk produk perikanan. Formalin merupakan salah satu bahan berbahaya yang sering disalahgunakan sebagai pengawet makanan, seperti mie, tahu, ikan dan bakso. Residu formalin pada produk pangan sulit dideteksi secara inderawi (visual).
Test Kit Uji Residu Formalin ini berupa alat penguji (test kit) kualitatif yang praktis menggunakan larutan campuran pararosanilin dengan sulfit jenuh pada suasana asam. Alat penguji ini sama sensitifnya dengan reagen penguji komersial dan dapat mendeteksi adanya formalin pada makanan dalam bentuk padat atau cair dengan batas deteksi minimal 2 ppm.
Perakitan teknologi dimulai dengan penelitian awal untuk mencari teknologi analisis yang paling tepat dan paling mudah diaplikasikan di masyarakat untuk keperluan pengujian cepat kandungan formalin pada sampel ikan. Dari penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa metode Schiff yang dapat digunakan sebagai metode dasar tes kit uji residu formalin. Untuk dikemas menjadi sebuah test kit, larutan HCl yang digunakan dimodifikasi dengan menggunakan larutan HCl 25% (v/v) tidak menggunakan larutan HCl pro analisis (pekat) karena mempertimbangkan faktor keselamatan pada penggunaannya nanti.
Pada tahap berikutnya dilakukan uji lapang penggunaan test kit dan uji kestabilan atau umur simpan produk Test Kit Uji Residu Formalin yang dibuat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Reagent Schiff yang digunakan mampu bertahan selama 8 bulan. Pada tahun 2008 dilakukan juga penelitian monitoring penggunaan formalin pada produk perikanan dengan menggunakan Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) sebagai alat ujinya. TM Penelitian ini sudah dilakukan secara berkala dan konsinten tiap tahun sejak tahun 2005 sampai tahun 2010. Pada tahun 2007 invensi diusulkan ke Ditjen HaKI untuk mendapatkan paten dan pada tahun 2011 telah diterbitkan surat paten Test Kit Residu Formalin Pada Makanan dengan nomor paten ID S00001087.
Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) telah digunakan secara komersial bekerjasama dengan Koperasi Artha Mina dan telah digunakan oleh beberapa instansi pemerintah (beberapa dinas perikanan, seperti Dinas Perikanan Pekalongan, Dinas Perikanan Bangka Belitung, Dinas Perikanan Aceh, Dinas Perikanan Cirebon, dll) untuk pengawasan penyalahgunaan formalin sejak tahun 2007. Pada tahun 2007 Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) juga dipesan oleh Ditjen TM P2HP sebanyak 500 pak untuk dibagikan ke dinas-dinas perikanan daerah untuk pengawasan mutu produk perikanan.
Dengan Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) maka biaya analisis formalin dapat ditekan karena TM biaya analisis pengujian formalin kualitatif di laboratorium uji berkisar antara Rp. 20.000 – Rp. 50.000 per sampel, sedangkan dengan menggunakan test kit ini biaya pengujian formalin hanya Rp. 4.000 per sampel. Test Kit ini juga lebih murah dari produk serupa (25-50%) karena harga test kit serupa (test kit formalin dari luar negeri) adalah Rp. 1.200.000 untuk 100 kali pengujian.
PENGERTIAN
Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) TM Suatu alat penguji cepat dalam kemasan yang berisi 2 botol larutan penguji, yaitu Larutan A dan Larutan B, 2 botol kaca kosong untuk pengujian sampel, dan satu syringe untuk mengambil larutan sampel.
Reagen
Cairan larutan kimia yang disediakan dalam satu kemasan tertentu pada Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM).
ppm
Satuan konsentrasi yang menunjukkan jumlah 1 bagian ukuran bahan tersebut per 1.000.000 bagian ukuran bahan uji.
Formalin
Cairan beracun dan berbahaya yang merupakan campuran formaldehid (HCHO) yang terlarut dalam air dengan konsentrasi 37-40%. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS Persyaratan teknis
Test kit sebaiknya disimpan pada suhu rendah (5o-10oC) agar masa aktifnya dapat lebih lama.
Pada suhu tersebut test kit dapat digunakan sampai masa penyimpanan 3 bulan.
Rincian pengujian residu formalin menggunaan Test Kit
1. Ikan yang akan diuji (sampel) terlebih dahulu diiris kecil-kecil (dicacah) atau diblender (dihaluskan),
2. Sekitar ±10 gram (satu sendok makan) sampel diambil lalu ditambah dengan airpanas ± 20 ml (4 sendok makan) dan diaduk selama 1 menit,
3. Setelah campuran mengendap, diambil 10 ml cairan menggunakan syringe yangdisediakan dan dimasukkan ke dalam botol kaca kosong yang telah tersedia dalam kemasan tes kit uji.
4. Larutan sampel dalam botol tersebut selanjutnya ditambahkan 4 tetes Larutan A dan 4 tetes Larutan B. Selanjutnya dilakukan pengocokan dan dibiarkan hingga sekitar 10 menit dan kemudian diamati perubahan warna yang terjadi. Air suling (akuades) dapat digunakan sebagai kontrol negatif dengan meneteskan larutan A dan B dengan cara yang sama.
5. Terbentuknya warna ungu pada botol berisi sampel yang bersamaan dengan tidakterbentuknya warna serupa pada botol berisi air suling menunjukkan bahwa ikan (produk perikanan) yang diuji positif mengandung formalin. Keterangan: Untuk pengujian produk berbentuk cairan, tidak perlu dilakukan preparasi sampel, langsung ditambahkan Larutan A dan B masing-masing sebanyak 4 tetes dan dikocok sampai homogen kemudian diamati perubahan warnanya.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
 Dalam hal kepraktisan dan efektivitas, inovasi ini sama dengan yang tersedia di pasaran, tapi harganya lebih murah.
 Test Kit Uji Residu Formalin sangat dibutuhkan karena kasus malpraktek pengawetan makanan, terutama ikan semakin marak, sementara deteksi visual tidak mungkin dilakukan.
 Test Kit sangat memudahkan pengawas dalam membuktikan adanya malpraktek, bila digunakan bagi pengawasan rutin di pusat-pusat produksi makanan, dapat menghentikan penyalahgunaan formalin pada makanan.
 Di bidang perikanan, test kit ini dapat digunakan di TPI sebagai gerbang pendaratan ikan sehingga ada jaminan keamanan atas ikan yang didaratkan.
 Test Kit ini dapat digunakan tidak terbatas pada ikan, tapi untuk semua jenis makanan padat maupun cair.
 Test Kit ini akan sangat membantu para retailer (misal: super market atau pasar) untuk memastikan bahwa produk yang dikirim suplier terbukti aman.
 Test Kit cocok digunakan untuk ini karena praktis, mudah digunakan, hasilnya cepat didapat, batas deteksi minimal rendah, dan sangat murah sehingga biaya pengujian tidak akan membebani harga produk yang dijual.
 Telah diproduksi dan dijual secara komersial bekerjasama dengan Koperasi Artha Mina dan telah digunakan oleh beberapa instansi pemerintah (beberapa dinas perikanan) untuk pengawasan penyalahgunaan formalin sejak Tahun 2007.
LOKASI REKOMENDASI
Antilin mudah dan praktis digunakan bahkan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan analisis TM laboratorium sehingga mudah digunakan oleh siapa saja di lapangan. Sebagai salah satu alat (tool) untuk mengawasi terjadinya penyimpangan penggunaan bahan berbahaya formalin pada produk perikanan, Antilin dapat digunakan oleh para praktisi pengawas mutu produk perikanan TM atau para penyuluh serta masyarakat pengolahan produk perikanan dalam membantu membrantas praktek keliru penyalah-gunaan formalin pada produk perikanan. Tempat-tempat yang penting dimonitor menggunakan test kit ini adalah daerah yang mengalami kelangkaan es sebagai pengawet ikan, di pintu-pintu pemasukan ikan seperti TPI atau Pasar Ikan, atau di tokotoko pengecer ikan.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Dampak negatif tidak ada karena pengujian tidak merusak produk yang diuji, dan test kit tidak membahayakan penguji. Karena Larutan B secara terpisah akan memberikan pewarnaan pink pada kulit (walaupun tidak membahayakan) maka disarankan menggunakan sarung tangan pada saat pengujian atau membasuh tangan yang terkena tetesan tersebut dengan detergen setelah proses pengujian.
KELAYAKAN FINANSIAL
Biaya pengujian kualitatif formalin pada laboratorium uji berkisar Rp. 20.000,00 – Rp. 50.000,00 per sampel dan cukup besar jika bahan yang akan diuji jumlahnya banyak. Dengan menggunakan Tes Kit Uji Residu Formalin (Antilin TM) dengan harga Rp. 200.000,00 untuk 50 sampel maka biaya analisis formalin yang diperlukan hanya Rp. 4.000,00 per sampel Dari sisi harga, Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) juga lebih murah dari produk serupa (25-50%) kartena dari informasi harga test kit serupa (test kit formalin dari luar negeri) harga produk tersebut sekitar Rp.1.200.000,00 untuk 100 kali pengujian.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Sekitar 80% bahan yang digunakan untuk pembuatan Tes Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) dapat diproduksi di Indonesia sehingga 80% produk ini dapat menggunakan komponen dalam negeri.
Spesifikasi
Tes kit uji residu formalin ini untuk mendeteksi adanya residu formalin pada makanan berbentuk padat atau cairan. Set set test kit terdiri dari; Reagen A dengan botol volume 10-15 ml yang berisi campuran larutan pewarna pararosanilin pada konsentrasi 0,05-0,2% dengan larutan natrium metabisulfit 0,5-5%, Reagen B dengan botol volume 10-15 ml yang berisi larutan Hydrochloric Acid 25% (w/v), dan dilengkapi dengan dua botol kosong dengan ukuran 10-30 ml sebagai botol reaksi masing-masing untuk sampel dan untuk blanko serta satu syringe volume 5-10 ml untuk mengambil sampel dalam jumlah tertentu Tes kit ini dapat digunakan untuk 50 kali pengujian sampel
Sumber:
Heruwati E. S., Murtini J. T., dan Ariyani F., 2013. Test Kit Antilin Untuk Uji Residu Formalin pada Produk Perikanan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Senin, 02 Juli 2018

Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar

DESKRIPSI TEKNOLOGI
1. TUJUAN DAN MANFAAT PENERAPAN TEKNOLOGI Kegunaan teknologi ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas ikan dan udang.
2. PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI MinaGrow = merupakan salah satu Recombinant Growth Hormone (rGH) atau protein hormon pertumbuhan rekombinan atau suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agentbagi pertumbuhan somatik ikan, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan.
3. RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS/PERSYARATAN TEKNIS YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN 3.1. Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi Aplikasi MinaGrow dapat dilakukan melalui 3 (tiga) metode yaitu perendaman, injeksi, dan oral (melalui pakan). Perendaman dilakukan pada larva ikan yang hampir habis kuning telurnya atau pada juvenile udang. Injeksi dapat dilakukan pada ikan yang sudah besar namun kurang efektif karena membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Oral atau melalui pakan dapat dilakukan di semua stadia ikan dan udang baik larva (yang sudah habis kuning telurnya) maupun yang sudah dewasa.
3.2. Detail Standar Operational Procedure, mencakup :
a. Gambaran/uraian/rincian teknologi MinaGrow merupakan suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agent bagi pertumbuhan somatik ikan dan udang, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan dan udang.
b. Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan sampai aplikasi :
1. Produksi MinaGrow Produksi MinaGrow dilakukan berdasarkan metode dari Alimuddin et al. (2011). Bakteri Escherichia coli BL21 yang membawa vektor ekspresi MinaGrow diinkubasi dalam media 2xYT pada suhu 15o C, dan dikocok selama semalam. Sintesis protein diinduksi dengan menambahkan 1 mM isopropyl-b-Dthiogalactopyranoside (IPTG) ke dalam media kultur bakteri. Total protein bakteri dalam bentuk badan inklusi (inclusion body) diendapkan menggunakan sentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit, dan selanjutnya protein dilarutkan dalam buffer fosfat salin (PBS). Dinding sel bakteri dipecah dengan menggunakan sonikator selama 5 menit dengan selang 1 menit ON dan 1 menit OFF. Kemudian, disentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Pellet yang terbentuk dikeringbekukan dengan menggunakan freeze dryer pada suhu -87o C selama over night. Selanjutnya, pellet kering yang sudah terbentuk dapat disimpan dalam suhu ruang.
2. Pemberian MinaGrow melalui pakan (oral) MinaGrow sebanyak 2 mg (berat kering) dilarutkan dalam 15 mL PBS, dan dicampur dengan 2 mg kuning telur ayam yang berfungsi sebagai bahan pengikat (binder) pada pakan buatan. Setelah dihomogenasi menggunakan vorteks, campuran kuning telur dan MinaGrow disemprotkan secara merata pada 1 kg pakan komersial kemudian dibiarkan kering udara sebelum diberikan pada ikan nila. Campuran pakan MinaGrow diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan interval 3 hari secara satiasi.
3. Pemberian MinaGrow melalui perendaman Larva ikan diberikan perlakuan kejut salinitas dalam NaCl 3,0% selama 2 menit, sedangkan juvenile udang tidak perlu menggunakan perlakuan kejut salinitas. Kemudian, direndam dengan larutan MinaGrow (dosis 2 mg/L), NaCl 0,9%, dan BSA 0,01% selama 1 jam. Setelah perendaman selesai, larva atau juvenile dapat dipelihara seperti biasa. Perendaman dilakukan tiga kali dalam seminggu dalam interval 3 hari. 4. Pemberian MinaGrow melalui injeksi MinaGrow diinjeksikan 0,1 ml suspensi MinaGrow sebanyak 1 µg/10 µl PBS/g bobot tubuh secara intramuskuler pada benih ikan berukuran 5-8 cm. Injeksi dilakukan seminggu sekali selama 4 minggu.
3.3. Kaji terap yang sudah dilakukan di beberapa daerah beserta hasilnya Penerapan teknologi ini sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti :
1. Kabupaten Banyumas Penerapan MinaGrow pada ikan gurame dengan pemberian melalui pakan (Gambar 1a dan 1b) (Hardiantho dkk., 2012).
2. Kabupaten Bogor Penerapan MinaGrow pada ikan sidat melalui perendaman dan pakan (Gambar 2) (Alimuddin et al., 2012).
3. Kabupaten Purwakarta Penerapan MinaGrow pada pembesaran ikan nila di instalasi keramba jaring apung BBPBAT Sukabumi, Waduk Cirata (Gambar 3) (belum dipublikasikan).
4. BBPBAT Sukabumi Penerapan MinaGrow pada beberapa jenis ikan disajikan sebagai berikut :
a. Perendaman MinaGrow pada Ikan Mas Perendaman larva ikan mas dengan penentuan dosis diperoleh dosis 30 mg (bobot basah) per liter air dan pemberian 2 kali selama seminggu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya (Faridah dkk., 2011).
b. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada pembesaran ikan mas (belum dipublikasikan).
c. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada ikan patin (belum dipublikasikan).
4. KEUNGGULAN TEKNOLOGI
4.1 Uraian tentang teknologi
a. Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi dan biomassa mengalami peningkatan sebesar 50,23%.
b. Pemberian MinaGrow melalui perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat mampu meningkatkan pertumbuhan rekombinan. Pada ikan patin, pemberian pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68%.
c. Pemberian MinaGrow pada pembesaran ikan mas juga mampu meningkatkan ukuran bobot rataan sebesar 106,96 gram/ekor (bobot biomas 246 kg) dibandingkan kontrol yang hanya sebesar 80 gram/ekor (bobot biomas 184 kg). Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah total produksi pada pembesaran ikan mas serta percepatan masa pemeliharaannya.
d. Aplikasi penambahan MinaGrow dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.2 Keunggulan Teknologi MinaGrow Penerapan MinaGrow telah memberikan hasil yang menjanjikan dalam peningkatan produksi ikan.
Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi, begitu juga dengan biomassa yang mengalami peningkatan sebesar 50,23% (Hardiantho dkk., 2012). Pemberian MinaGrow melalui cara perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat, mampu meningkatkan pertumbuhan mencapai 100% lebih tinggi daripada yang tidak diberi protein hormon pertumbuhan rekombinan (Handoyo, 2012). Pada ikan patin, pemberian MinaGrow melalui pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68% (belum dipublikasikan).
Berbagai upaya lain untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sudah dilakukan namun, terhalang dengan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan perbaikan kualitas secara signifikan seperti seleksi, hibridisasi, triploidisasi, dan transgenesis. Seleksi membutuhkan waktu 10 tahun untuk menghasilkan 12 generasi dengan kecepatan tumbuh 12,4% per generasi pada ikan nila (Bolivar et al. 2002). Transgenesis menghasilkan laju pertumbuhan 30 kali lebih cepat (Nam et al. 2001) namun membutuhkan peralatan yang canggih dan tenaga kerja yang terampil. Sehingga, aplikasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan (MinaGrow) dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.3 Mudah diterapkan dalam sistem usaha Aplikasi MinaGrow mudah diterapkan karena sudah tersedia dalam bentuk siap didistribusikan. MinaGrow dikemas dalam bentuk serbuk sehingga dapat bertahan cukup lama.
4.4 Ramah lingkungan MinaGrow merupakan teknologi ramah lingkungan. MinaGrow tidak meninggalkan residu bakteri pada lingkungan dan bebas dari kontaminasi bakteri yang merugikan. Namun demikian, penggunaan hormon dalam kegiatan budidaya harus didaftarkan dan memperoleh kelayakannya dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk keamanan pangan dan komisi hayati produk rekayasa genetik di Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) untuk keamanan lingkungan.
5. WAKTU DAN LOKASI
5.1 Gambaran/uraian lokasi dan waktu penelitian, pengkajian, pengembangan, penerapan dilakukan 1) Penelitian ini dilaksanakan sejak tahun 2011 di Dept. BDP, FPIK – IPB. 2) Pengembangannya dilakukan selama tahun 2012 – 2013 di BBPBAT Sukabumi. 3) Aplikasinya selama tahun 2014 di BBPBAT Sukabumi.
5.2 Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi, dapat dilakukan di wadah budidaya apa saja.
6. KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Masih memerlukan kajian keamanan pangan dari BPOM dan keamanan lingkungan dari komisi hayati produk rekayasa genetik KLH.
7. KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
Analisa usaha dibuat untuk pembesaran ikan nila disajikan pada Tabel 1.
8. TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Bahan – bahan yang digunakan untuk aplikasi MinaGrow merupakan bahan yang dapat diperoleh di dalam negeri.
Sumber:
Hardiantho A. D., Sucipto A., Yanti D. H., Faridah N., dan Prasetiyo A. E., 2014. Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.