Rabu, 04 Juli 2018

Test Kit Antilin Untuk Uji Residu Formalin pada Produk Perikanan

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Test Kit Uji Residu Formalin adalah seperangkat alat untuk pengujian cepat kandungan formalin pada bahan uji makanan atau minuman, termasuk produk perikanan. Formalin merupakan salah satu bahan berbahaya yang sering disalahgunakan sebagai pengawet makanan, seperti mie, tahu, ikan dan bakso. Residu formalin pada produk pangan sulit dideteksi secara inderawi (visual).
Test Kit Uji Residu Formalin ini berupa alat penguji (test kit) kualitatif yang praktis menggunakan larutan campuran pararosanilin dengan sulfit jenuh pada suasana asam. Alat penguji ini sama sensitifnya dengan reagen penguji komersial dan dapat mendeteksi adanya formalin pada makanan dalam bentuk padat atau cair dengan batas deteksi minimal 2 ppm.
Perakitan teknologi dimulai dengan penelitian awal untuk mencari teknologi analisis yang paling tepat dan paling mudah diaplikasikan di masyarakat untuk keperluan pengujian cepat kandungan formalin pada sampel ikan. Dari penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa metode Schiff yang dapat digunakan sebagai metode dasar tes kit uji residu formalin. Untuk dikemas menjadi sebuah test kit, larutan HCl yang digunakan dimodifikasi dengan menggunakan larutan HCl 25% (v/v) tidak menggunakan larutan HCl pro analisis (pekat) karena mempertimbangkan faktor keselamatan pada penggunaannya nanti.
Pada tahap berikutnya dilakukan uji lapang penggunaan test kit dan uji kestabilan atau umur simpan produk Test Kit Uji Residu Formalin yang dibuat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Reagent Schiff yang digunakan mampu bertahan selama 8 bulan. Pada tahun 2008 dilakukan juga penelitian monitoring penggunaan formalin pada produk perikanan dengan menggunakan Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) sebagai alat ujinya. TM Penelitian ini sudah dilakukan secara berkala dan konsinten tiap tahun sejak tahun 2005 sampai tahun 2010. Pada tahun 2007 invensi diusulkan ke Ditjen HaKI untuk mendapatkan paten dan pada tahun 2011 telah diterbitkan surat paten Test Kit Residu Formalin Pada Makanan dengan nomor paten ID S00001087.
Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) telah digunakan secara komersial bekerjasama dengan Koperasi Artha Mina dan telah digunakan oleh beberapa instansi pemerintah (beberapa dinas perikanan, seperti Dinas Perikanan Pekalongan, Dinas Perikanan Bangka Belitung, Dinas Perikanan Aceh, Dinas Perikanan Cirebon, dll) untuk pengawasan penyalahgunaan formalin sejak tahun 2007. Pada tahun 2007 Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) juga dipesan oleh Ditjen TM P2HP sebanyak 500 pak untuk dibagikan ke dinas-dinas perikanan daerah untuk pengawasan mutu produk perikanan.
Dengan Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) maka biaya analisis formalin dapat ditekan karena TM biaya analisis pengujian formalin kualitatif di laboratorium uji berkisar antara Rp. 20.000 – Rp. 50.000 per sampel, sedangkan dengan menggunakan test kit ini biaya pengujian formalin hanya Rp. 4.000 per sampel. Test Kit ini juga lebih murah dari produk serupa (25-50%) karena harga test kit serupa (test kit formalin dari luar negeri) adalah Rp. 1.200.000 untuk 100 kali pengujian.
PENGERTIAN
Test Kit Uji Residu Formalin (Antilin ) TM Suatu alat penguji cepat dalam kemasan yang berisi 2 botol larutan penguji, yaitu Larutan A dan Larutan B, 2 botol kaca kosong untuk pengujian sampel, dan satu syringe untuk mengambil larutan sampel.
Reagen
Cairan larutan kimia yang disediakan dalam satu kemasan tertentu pada Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM).
ppm
Satuan konsentrasi yang menunjukkan jumlah 1 bagian ukuran bahan tersebut per 1.000.000 bagian ukuran bahan uji.
Formalin
Cairan beracun dan berbahaya yang merupakan campuran formaldehid (HCHO) yang terlarut dalam air dengan konsentrasi 37-40%. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS Persyaratan teknis
Test kit sebaiknya disimpan pada suhu rendah (5o-10oC) agar masa aktifnya dapat lebih lama.
Pada suhu tersebut test kit dapat digunakan sampai masa penyimpanan 3 bulan.
Rincian pengujian residu formalin menggunaan Test Kit
1. Ikan yang akan diuji (sampel) terlebih dahulu diiris kecil-kecil (dicacah) atau diblender (dihaluskan),
2. Sekitar ±10 gram (satu sendok makan) sampel diambil lalu ditambah dengan airpanas ± 20 ml (4 sendok makan) dan diaduk selama 1 menit,
3. Setelah campuran mengendap, diambil 10 ml cairan menggunakan syringe yangdisediakan dan dimasukkan ke dalam botol kaca kosong yang telah tersedia dalam kemasan tes kit uji.
4. Larutan sampel dalam botol tersebut selanjutnya ditambahkan 4 tetes Larutan A dan 4 tetes Larutan B. Selanjutnya dilakukan pengocokan dan dibiarkan hingga sekitar 10 menit dan kemudian diamati perubahan warna yang terjadi. Air suling (akuades) dapat digunakan sebagai kontrol negatif dengan meneteskan larutan A dan B dengan cara yang sama.
5. Terbentuknya warna ungu pada botol berisi sampel yang bersamaan dengan tidakterbentuknya warna serupa pada botol berisi air suling menunjukkan bahwa ikan (produk perikanan) yang diuji positif mengandung formalin. Keterangan: Untuk pengujian produk berbentuk cairan, tidak perlu dilakukan preparasi sampel, langsung ditambahkan Larutan A dan B masing-masing sebanyak 4 tetes dan dikocok sampai homogen kemudian diamati perubahan warnanya.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
 Dalam hal kepraktisan dan efektivitas, inovasi ini sama dengan yang tersedia di pasaran, tapi harganya lebih murah.
 Test Kit Uji Residu Formalin sangat dibutuhkan karena kasus malpraktek pengawetan makanan, terutama ikan semakin marak, sementara deteksi visual tidak mungkin dilakukan.
 Test Kit sangat memudahkan pengawas dalam membuktikan adanya malpraktek, bila digunakan bagi pengawasan rutin di pusat-pusat produksi makanan, dapat menghentikan penyalahgunaan formalin pada makanan.
 Di bidang perikanan, test kit ini dapat digunakan di TPI sebagai gerbang pendaratan ikan sehingga ada jaminan keamanan atas ikan yang didaratkan.
 Test Kit ini dapat digunakan tidak terbatas pada ikan, tapi untuk semua jenis makanan padat maupun cair.
 Test Kit ini akan sangat membantu para retailer (misal: super market atau pasar) untuk memastikan bahwa produk yang dikirim suplier terbukti aman.
 Test Kit cocok digunakan untuk ini karena praktis, mudah digunakan, hasilnya cepat didapat, batas deteksi minimal rendah, dan sangat murah sehingga biaya pengujian tidak akan membebani harga produk yang dijual.
 Telah diproduksi dan dijual secara komersial bekerjasama dengan Koperasi Artha Mina dan telah digunakan oleh beberapa instansi pemerintah (beberapa dinas perikanan) untuk pengawasan penyalahgunaan formalin sejak Tahun 2007.
LOKASI REKOMENDASI
Antilin mudah dan praktis digunakan bahkan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan analisis TM laboratorium sehingga mudah digunakan oleh siapa saja di lapangan. Sebagai salah satu alat (tool) untuk mengawasi terjadinya penyimpangan penggunaan bahan berbahaya formalin pada produk perikanan, Antilin dapat digunakan oleh para praktisi pengawas mutu produk perikanan TM atau para penyuluh serta masyarakat pengolahan produk perikanan dalam membantu membrantas praktek keliru penyalah-gunaan formalin pada produk perikanan. Tempat-tempat yang penting dimonitor menggunakan test kit ini adalah daerah yang mengalami kelangkaan es sebagai pengawet ikan, di pintu-pintu pemasukan ikan seperti TPI atau Pasar Ikan, atau di tokotoko pengecer ikan.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Dampak negatif tidak ada karena pengujian tidak merusak produk yang diuji, dan test kit tidak membahayakan penguji. Karena Larutan B secara terpisah akan memberikan pewarnaan pink pada kulit (walaupun tidak membahayakan) maka disarankan menggunakan sarung tangan pada saat pengujian atau membasuh tangan yang terkena tetesan tersebut dengan detergen setelah proses pengujian.
KELAYAKAN FINANSIAL
Biaya pengujian kualitatif formalin pada laboratorium uji berkisar Rp. 20.000,00 – Rp. 50.000,00 per sampel dan cukup besar jika bahan yang akan diuji jumlahnya banyak. Dengan menggunakan Tes Kit Uji Residu Formalin (Antilin TM) dengan harga Rp. 200.000,00 untuk 50 sampel maka biaya analisis formalin yang diperlukan hanya Rp. 4.000,00 per sampel Dari sisi harga, Test Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) juga lebih murah dari produk serupa (25-50%) kartena dari informasi harga test kit serupa (test kit formalin dari luar negeri) harga produk tersebut sekitar Rp.1.200.000,00 untuk 100 kali pengujian.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Sekitar 80% bahan yang digunakan untuk pembuatan Tes Kit Uji Residu Formalin (AntilinTM) dapat diproduksi di Indonesia sehingga 80% produk ini dapat menggunakan komponen dalam negeri.
Spesifikasi
Tes kit uji residu formalin ini untuk mendeteksi adanya residu formalin pada makanan berbentuk padat atau cairan. Set set test kit terdiri dari; Reagen A dengan botol volume 10-15 ml yang berisi campuran larutan pewarna pararosanilin pada konsentrasi 0,05-0,2% dengan larutan natrium metabisulfit 0,5-5%, Reagen B dengan botol volume 10-15 ml yang berisi larutan Hydrochloric Acid 25% (w/v), dan dilengkapi dengan dua botol kosong dengan ukuran 10-30 ml sebagai botol reaksi masing-masing untuk sampel dan untuk blanko serta satu syringe volume 5-10 ml untuk mengambil sampel dalam jumlah tertentu Tes kit ini dapat digunakan untuk 50 kali pengujian sampel
Sumber:
Heruwati E. S., Murtini J. T., dan Ariyani F., 2013. Test Kit Antilin Untuk Uji Residu Formalin pada Produk Perikanan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Senin, 02 Juli 2018

Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar

DESKRIPSI TEKNOLOGI
1. TUJUAN DAN MANFAAT PENERAPAN TEKNOLOGI Kegunaan teknologi ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas ikan dan udang.
2. PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI MinaGrow = merupakan salah satu Recombinant Growth Hormone (rGH) atau protein hormon pertumbuhan rekombinan atau suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agentbagi pertumbuhan somatik ikan, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan.
3. RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS/PERSYARATAN TEKNIS YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN 3.1. Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi Aplikasi MinaGrow dapat dilakukan melalui 3 (tiga) metode yaitu perendaman, injeksi, dan oral (melalui pakan). Perendaman dilakukan pada larva ikan yang hampir habis kuning telurnya atau pada juvenile udang. Injeksi dapat dilakukan pada ikan yang sudah besar namun kurang efektif karena membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Oral atau melalui pakan dapat dilakukan di semua stadia ikan dan udang baik larva (yang sudah habis kuning telurnya) maupun yang sudah dewasa.
3.2. Detail Standar Operational Procedure, mencakup :
a. Gambaran/uraian/rincian teknologi MinaGrow merupakan suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agent bagi pertumbuhan somatik ikan dan udang, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan dan udang.
b. Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan sampai aplikasi :
1. Produksi MinaGrow Produksi MinaGrow dilakukan berdasarkan metode dari Alimuddin et al. (2011). Bakteri Escherichia coli BL21 yang membawa vektor ekspresi MinaGrow diinkubasi dalam media 2xYT pada suhu 15o C, dan dikocok selama semalam. Sintesis protein diinduksi dengan menambahkan 1 mM isopropyl-b-Dthiogalactopyranoside (IPTG) ke dalam media kultur bakteri. Total protein bakteri dalam bentuk badan inklusi (inclusion body) diendapkan menggunakan sentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit, dan selanjutnya protein dilarutkan dalam buffer fosfat salin (PBS). Dinding sel bakteri dipecah dengan menggunakan sonikator selama 5 menit dengan selang 1 menit ON dan 1 menit OFF. Kemudian, disentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Pellet yang terbentuk dikeringbekukan dengan menggunakan freeze dryer pada suhu -87o C selama over night. Selanjutnya, pellet kering yang sudah terbentuk dapat disimpan dalam suhu ruang.
2. Pemberian MinaGrow melalui pakan (oral) MinaGrow sebanyak 2 mg (berat kering) dilarutkan dalam 15 mL PBS, dan dicampur dengan 2 mg kuning telur ayam yang berfungsi sebagai bahan pengikat (binder) pada pakan buatan. Setelah dihomogenasi menggunakan vorteks, campuran kuning telur dan MinaGrow disemprotkan secara merata pada 1 kg pakan komersial kemudian dibiarkan kering udara sebelum diberikan pada ikan nila. Campuran pakan MinaGrow diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan interval 3 hari secara satiasi.
3. Pemberian MinaGrow melalui perendaman Larva ikan diberikan perlakuan kejut salinitas dalam NaCl 3,0% selama 2 menit, sedangkan juvenile udang tidak perlu menggunakan perlakuan kejut salinitas. Kemudian, direndam dengan larutan MinaGrow (dosis 2 mg/L), NaCl 0,9%, dan BSA 0,01% selama 1 jam. Setelah perendaman selesai, larva atau juvenile dapat dipelihara seperti biasa. Perendaman dilakukan tiga kali dalam seminggu dalam interval 3 hari. 4. Pemberian MinaGrow melalui injeksi MinaGrow diinjeksikan 0,1 ml suspensi MinaGrow sebanyak 1 µg/10 µl PBS/g bobot tubuh secara intramuskuler pada benih ikan berukuran 5-8 cm. Injeksi dilakukan seminggu sekali selama 4 minggu.
3.3. Kaji terap yang sudah dilakukan di beberapa daerah beserta hasilnya Penerapan teknologi ini sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti :
1. Kabupaten Banyumas Penerapan MinaGrow pada ikan gurame dengan pemberian melalui pakan (Gambar 1a dan 1b) (Hardiantho dkk., 2012).
2. Kabupaten Bogor Penerapan MinaGrow pada ikan sidat melalui perendaman dan pakan (Gambar 2) (Alimuddin et al., 2012).
3. Kabupaten Purwakarta Penerapan MinaGrow pada pembesaran ikan nila di instalasi keramba jaring apung BBPBAT Sukabumi, Waduk Cirata (Gambar 3) (belum dipublikasikan).
4. BBPBAT Sukabumi Penerapan MinaGrow pada beberapa jenis ikan disajikan sebagai berikut :
a. Perendaman MinaGrow pada Ikan Mas Perendaman larva ikan mas dengan penentuan dosis diperoleh dosis 30 mg (bobot basah) per liter air dan pemberian 2 kali selama seminggu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya (Faridah dkk., 2011).
b. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada pembesaran ikan mas (belum dipublikasikan).
c. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada ikan patin (belum dipublikasikan).
4. KEUNGGULAN TEKNOLOGI
4.1 Uraian tentang teknologi
a. Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi dan biomassa mengalami peningkatan sebesar 50,23%.
b. Pemberian MinaGrow melalui perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat mampu meningkatkan pertumbuhan rekombinan. Pada ikan patin, pemberian pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68%.
c. Pemberian MinaGrow pada pembesaran ikan mas juga mampu meningkatkan ukuran bobot rataan sebesar 106,96 gram/ekor (bobot biomas 246 kg) dibandingkan kontrol yang hanya sebesar 80 gram/ekor (bobot biomas 184 kg). Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah total produksi pada pembesaran ikan mas serta percepatan masa pemeliharaannya.
d. Aplikasi penambahan MinaGrow dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.2 Keunggulan Teknologi MinaGrow Penerapan MinaGrow telah memberikan hasil yang menjanjikan dalam peningkatan produksi ikan.
Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi, begitu juga dengan biomassa yang mengalami peningkatan sebesar 50,23% (Hardiantho dkk., 2012). Pemberian MinaGrow melalui cara perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat, mampu meningkatkan pertumbuhan mencapai 100% lebih tinggi daripada yang tidak diberi protein hormon pertumbuhan rekombinan (Handoyo, 2012). Pada ikan patin, pemberian MinaGrow melalui pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68% (belum dipublikasikan).
Berbagai upaya lain untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sudah dilakukan namun, terhalang dengan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan perbaikan kualitas secara signifikan seperti seleksi, hibridisasi, triploidisasi, dan transgenesis. Seleksi membutuhkan waktu 10 tahun untuk menghasilkan 12 generasi dengan kecepatan tumbuh 12,4% per generasi pada ikan nila (Bolivar et al. 2002). Transgenesis menghasilkan laju pertumbuhan 30 kali lebih cepat (Nam et al. 2001) namun membutuhkan peralatan yang canggih dan tenaga kerja yang terampil. Sehingga, aplikasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan (MinaGrow) dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.3 Mudah diterapkan dalam sistem usaha Aplikasi MinaGrow mudah diterapkan karena sudah tersedia dalam bentuk siap didistribusikan. MinaGrow dikemas dalam bentuk serbuk sehingga dapat bertahan cukup lama.
4.4 Ramah lingkungan MinaGrow merupakan teknologi ramah lingkungan. MinaGrow tidak meninggalkan residu bakteri pada lingkungan dan bebas dari kontaminasi bakteri yang merugikan. Namun demikian, penggunaan hormon dalam kegiatan budidaya harus didaftarkan dan memperoleh kelayakannya dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk keamanan pangan dan komisi hayati produk rekayasa genetik di Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) untuk keamanan lingkungan.
5. WAKTU DAN LOKASI
5.1 Gambaran/uraian lokasi dan waktu penelitian, pengkajian, pengembangan, penerapan dilakukan 1) Penelitian ini dilaksanakan sejak tahun 2011 di Dept. BDP, FPIK – IPB. 2) Pengembangannya dilakukan selama tahun 2012 – 2013 di BBPBAT Sukabumi. 3) Aplikasinya selama tahun 2014 di BBPBAT Sukabumi.
5.2 Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi, dapat dilakukan di wadah budidaya apa saja.
6. KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Masih memerlukan kajian keamanan pangan dari BPOM dan keamanan lingkungan dari komisi hayati produk rekayasa genetik KLH.
7. KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
Analisa usaha dibuat untuk pembesaran ikan nila disajikan pada Tabel 1.
8. TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Bahan – bahan yang digunakan untuk aplikasi MinaGrow merupakan bahan yang dapat diperoleh di dalam negeri.
Sumber:
Hardiantho A. D., Sucipto A., Yanti D. H., Faridah N., dan Prasetiyo A. E., 2014. Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Selasa, 05 Juni 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN TAWES


Penyakit yang menyerang Ikan Tawes antara lain Gyrodactylus dan Mixobolus spp yang kerap menyerang pada benih sampai ikan dewasa.

GYRODACTYLIASIS
Penyebab                    :Parasit ini termasuk monogeniaMenyerang pada bagian tubuh dan sirip ikan.
Jenis dan ukuran         :Hampir semua jenis ikan air tawar,terutama ukuran benih.
Gejala klinis                :Ikan menjadi lemah, nafsu makan berkurang, frekuensi pernapasan meningkat dan produksi lendir meningkat.
Faktor pendukung       :Kualitas air yang menurun, kekurangan pakan, padat tebar tinggi dan fluktuasi suhu air selalu berubah.
Penularan                   :Melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi.
Verifikasi                    :Pengamatan melalui microkopis.
Pencegahan                : - Meningkatkan kualitas air
-   Pemberian pakan tepat mutu dan jumlah yang diperlukan
-   Pengendapan aira dan pemasangan saringan pada pintu pemasukan
Pemberantasan           : - Perendaman dengan larutan larutan garam dapur,
    dosis 12,5-13 gr/m2 selam 24-36 jam
-   Perendaman dengan larutan formalin 40 ppmselama 24 jam

MYXOSPOREASIS
Penyebeb                    : Mixobolus spp, parasit ini; termasuk kelompok myxosporea
Jenis dan ukuran         :Myxobolus spp biasanya; menyerang pada bagian insang saat benih, mulai berumur 1 bulan
Gejala klinis                :Adanya benjolan menyerupai tumor pada insang ikan, bahkan sering disebut penyakit amandel
Faktor pendukung       : Kualitas air menurun dan padat tebar yang tinggi
Penularan                   : Melalui air dan ikan yang mudah terinfiksi.
Verifikasi                    : Pengamatan mikroskopis
Pencegahan                : - Pengendapan air dan pemasangan saringan pada pintu    pemasukan
-   Dilakukan pengapuran dan pengeringan kolam

DAFTAR PUSTAKA
Daelani Deden A.S. Agar Ikan Sehat, Penebar Swadaya Cianjur, 2001.
Dinata Sumanta, K. Pengembang biakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. PT Sastra Hudaya, Bogor 1983.
Harja, M.A. Budidaya Ikan Nilem untuk SUPM Budidaya Bogor. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluh Pertanian. Bogor 1978.
Rohmat C. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Tawes Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Sachlan, M. Parasit ,Penyakit dan Hama Buraya Ikan SUPM (Jurusan Budidiya) Bogor, Juni 1975.

Senin, 04 Juni 2018

BUDIDAYA IKAN MASKOKI


Tak perlu dibahas ikan koki seperti apa. Hampir semua orang sudah mengenalnya, termasuk jenis-jenisnya. Karena ikan ini banyak dijual di toko-toko ikan hias dan juga penjual ikan hias di pinggiran jalan, bahkan penjual asongan. Yang perlu diketahui adalah budidayanya. Karena tidak semua orang tahu, terutama pembenihannya.

Beda jantan dan betina
Jantan dan betina ikan koki dapat dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuhnya. Jantan dicirikan dengan tubuh lebih langsing dari betina dan memiliki sirip dada yang kasar di bagian belakangnya, dengan bentuk seperti gundukan pasir. Jantan yang matang kelamin akan keluar cairan berwarna putih susu, bila dipijit ke arah lubang kelamin.
Sedangkan betina bertubuh lebih gendut dan memiliki sirip dada yang halus di bagian belakangnya. Kemudian betina yang sudah bertelur dan matang gonad perutnya terasa lembek, bila diraba, berbeda sekali dengan betina yang belum matang gonad. Induk jantan dan betina harus sudah berumur 6 bulan.

Pematangan gonad
Pematangan gonad dilakukan di akuarium. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan 2 titik aerasi dan biarkan hidup selama pematangan gonad; masukan 10 ekor induk; beri pakan berupa pelet kecil atau cacing darah secukupnya (bila telur ingin bagus ditambah jentik nyamuk). Jantan dan betina dipelihara terpisah.
Pematangan gonad bisa juga dilakukan di bak semen. Caranya, siapkan sebuah bak semen ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 50 cm; keringkan selama 3 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan 4 titik aerasi; masukan 40 – 50 ekor induk; beri pakan berupa pelet kecil atau cacing darah secukupnya (bila telur ingin bagus ditambah dengan jentik nyamuk). Jantan dan betina dipelihara terpisah.
Pematangan gonad bisa juga dilakukan di bak fibreglass. Caranya, Caranya, siapkan sebuah bak fibreglass ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 50 cm; keringkan selama 3 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm dan biarkan mengalir selama pematangan gonad; masukan 20 – 25 ekor induk; beri pakan berupa pelet kecil atau cacing darah secukupnya (bila telur ingin bagus ditambah dengan jentik nyamuk). Jantan dan betina dipelihara terpisah.

Pemijahan
Pemijahan dilakukan di akuarium. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan dua titik aerasi dan biarkan hidup selama pemijahan; masukan sebuah alat penempel telur berupa ijuk (kakaban kecil) atau 3 rumpun eceng gondok; masukan 1 ekor induk betina; masukan 2 ekor induk jantan; biarkan memijah. Pemijahan biasanya terjadi pada tengah malam hingga pagi hari.
Pemijahan bisa juga dilakukan di bak fibreglass. Caranya, siapkan sebuah fibreglass ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 50 cm; keringkan selama 3 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan 4 titik aerasi dan biarkan hidup selama pemijahan; pasang hapa halus dengan ukuran yang sama dengan fibreglass; masukan ijuk atau dua buah kakaban kecil; masukan 5 ekor induk betina; masukan juga 10 ekor induk jantan; biarkan memijah dengan sendirinya. Pemijahan ini juga biasanya terjadi pada tengah malam hingga pagi hari.

Penetasan dan pendederan I
Penetasan dilakukan di akuarium pemijahan. Caranya, tangkap induk jantan yang telah memijah dan masukan kembali ke tempat pematangan gonad; tangkap pula induk betina yang telah memijah dan masukan kembali ke tempat pematangan gonad; periksa aerasi dan biarkan hidup selama penetasan; biarkan menetas. Penetasan berlangsung selama 2 – 3 hari. Setelah menetas, kakaban atau tanaman air diangkat.
Pada budidaya ikan koki, penetasan umumnya dilanjutkan dengan pendederan I, dengan perlakuan pemberian pakan. Dua hari setelah menetas atau ketika larva mulai berenang diberi pakan berupa emulsi kuning telur yang sudah direbus (1/4 bagian) hingga umur 9 hari (kuning telur rebus yang disaring dengan kain halus). Setelah umur 10 hari diberi pakan berupa cacing rambut atau dapnia yang sudah disaring. Panen dilakukan setelah satu bulan.
Penetasan bisa dilakukan di bak fibreglass pemijahan. Caranya, tangkap induk jantan yang telah memijah dan masukan kembali ke tempat pematangan gonad; tangkap pula induk betina yang telah memijah dan masukan kembali ke tempat pematangan gonad; periksa aerasi dan biarkan hidup selama penetasan; biarkan menetas. Penetasan berlangsung selama 2 – 3 hari. Pada penetasan di fibreglass juga dilanjutkan dengan pendederan I, dengan perlakuan yang sama.

Pendederan II
Pendederan II dilakukan di akuarium lain. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan dua titik aerasi dan biarkan hidup selama pendederan; masukan 50 ekor benih koki yang berasal dari pendederan I dan sudah diseleksi; beri pakan berupa cacing rambut atau cacing darah atau dapnia yang sudah disaring sesuai dengan kebutuhan; panen setelah satu bulan; seleksi ukurannya.

Pendederan III
Pendederan III dilakukan di akuarium lain. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan dua titik aerasi dan biarkan hidup selama pendederan; masukan 30 ekor benih koki yang berasal dari pendederan II dan sudah diseleksi; beri pakan berupa cacing rambut atau cacing darah atau dapnia yang sudah disaring sesuai dengan kebutuhan; panen setelah satu bulan; seleksi ukurannya.

Pembesaran
Pendederan III dilakukan di akuarium lain. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 – 30 cm; hidupkan dua titik aerasi dan biarkan hidup selama pendederan; masukan 20 ekor benih koki yang berasal dari pendederan III dan sudah diseleksi; beri pakan berupa cacing rambut atau cacing darah atau dapnia yang sudah disaring sesuai dengan kebutuhan; panen setelah dua bulan; seleksi ukurannya. Ikan koki hasil dari pembesaran berukuran 5 – 7 cm dan sudah bisa dijual.

SUMBER:
http://bdp-unhalu.blogspot.com
http://agusrochdianto.wordpress.com
http://ebookbrowsee.net

Minggu, 03 Juni 2018

BUDIDAYA IKAN TAWES


Ikan Tawes (Puntius javanicus) merupakan ikan peliharaan yang berasal dari sungai, tergolong dalam marga Cyprinidae seperti ikan mas dan nilem. Bentuk tubuh ikan tawes mirip dengan ikan mas, tetapi badannya lebih memanjang dengan sirip punggung relatif lebih panjang. Pada mulutnya terdapat dua kumis dan bibirnya berkeruk-keruk sebagai tanda pemakan jasad penempel.
            Ciri-ciri ikan tawes yaitu bentuk badannya memanjang dan kecil, sedangkan sisiknya berwarna putih keperak-perakan. Panjang batang ekor ikan tawes dan tinggi badannya yang terenda adalah sama. Ikan tawes mempunyai tanda hitam pada pangkal ekor.

 
            Di perairan umum ikan tawes berkembang biak pada akhir musim penghujan, sedangkan di kolam berkembang biak sepanjang tahun jaka terdapat cukup air jernih. Kematangana kelamin dicapai pada akhir musim pertama berukuran 15-20 cm, telur transparan demersal. Fekunditas bervariasi antara 50.000-94.000 butir dari induk beratnya 130-255 gr. Untuk ketinggian tempat yang cocok dalam pemeliharaan 800 m di atas permukaan laut, suhu 18-28 oC.

Sistematika
            Sistematika ikan tawes adalah sebagai berikut:
Species            : Puntius javanicus
Gernus             : Puntius
Sub famili        : Ciprininae
Famili              : Cyprinedae
Sub ordo          : Cyprinoidea
Ordo                : Ostariophysi

Macam-macam Ikan Tawes
Sedikitnya ada empat macam ikan tawes yang biasa ditemukan yaitu:
  • Tawes biasa    : sisik berwarna putih kelabu
  • Tawes bule      : sisik albino, mulai terdapat pada tahun 1936
  • Tawes silap     : sisik berwarna putih kelabu bercampur dengan sisik keperak-
  perakkan.
  • Tawes kunpay : sisik berwarna kelabu, ekornya terutama sirip dada dan ekor
  panjang.

Sifat-sifat Ikan Tawes
            Ikan tawes merupakan ikan sungai, dapat hidup pada salinitas 7 ppm. Jenis ikan ini sangat cocok dipelihara dikolam-kolam, waduk dan sawah. Ikan tawes digolongkan termasuk sebagai herbivore. Pemijahan di kolam terjadi sepanjang tahun, tidak ada musim. Di sungai atau di perairan umum pemijahan terjadi pada permulaan musim penghujan.
            Pemeliharaan ikan tawes biasanya dilauan secara tradisional, penanaman dilakukan baik dikolam ataupun di sawah. Pada umumnya pemeliharaan ikan tawes dilakukan secara poliultur dengan jenis-jenis ikan lainnya, yaitu dengan jenis ikan yang mempunyai sifrat maan yang berlainan seperti ikan mas yang memaan jasad-jasad dasar, tambakan pemakan plankton, nilem pemakan jasad-jasad penempel (periphiton). Susunan campuran pemeliharaan bervariasi bergantung kepada ian utama yang diehendaki dan esuburan kolam.
4
 
            Penyakit pada ikan tawes adalah Icthyophirius, Dacthylogyrus dan gyrodctylus, penyakit ini tidak berbahaya dan belum pernah di amati terjadi ematian masal. Dacthylogyrus dapat menyebabkan kerusakan pada ujung-ujung filament insang. Pada benih-benih yang di berok sering dijumpai Cyclochaeta. Pada ikan yang terserang ini pada insang umimnya merana menyebabkan ikan menjadi kurus. Myxobolus merupakan penyakit yang berbahaya yang dapat menyebabkan kematian masal. Lernaea jarang menyerang benih dan ikan dewasa.

DAFTAR PUSTAKA
Daelani Deden A.S. Agar Ikan Sehat, Penebar Swadaya Cianjur, 2001.
Dinata Sumanta, K. Pengembang biakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. PT Sastra Hudaya, Bogor 1983.
Harja, M.A. Budidaya Ikan Nilem untuk SUPM Budidaya Bogor. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluh Pertanian. Bogor 1978.
Rohmat C. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Tawes Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Sachlan, M. Parasit ,Penyakit dan Hama Buraya Ikan SUPM (Jurusan Budidiya) Bogor, Juni 1975.

Sabtu, 02 Juni 2018

PENYIAPAN WADAH DAN MEDIA BUDIDAYA IKAN MASKOKI


Wadah dan volume yang dapat digunakan untuk membudidayakan maskoki ada beberapa macam antara lain adalah: bak semen, bak fiber, kolam atau akuarium. Pemilihan wadah budidaya ini sangat bergantung kepada skala produksi budidaya maskoki. Wadah budidaya maskoki ini sebaiknya ditempatkan di ruang teduh.

Akuarium yang berbentuk bulat sangat cocok untuk memelihara maskoki yang tubuhnya bulat gempal. Akuarium bulat yang berdiameter 15 cm cocok untuk memelihara maskoki yang tubuhnya berukuran kecil, sekitar 3-4 cm sebanyak tiga ekor. Jika berukuran sedang (5-6 cm), akuarium hanya diisi dua ekor. Akuarium ini tidak cocok memelihara maskoki yang berukuran tubuh besar (6,5—8 cm) ke atas.
Jika mau memelihara maskoki yang berukuran besar sampai jumbo, akuarium persegi empat dapat dipilih karena ukuran akuariumnya bervariasi. Akuarium yang berukuran 60 cm x 30 cm x 35 cm dapat diisi maskoki ukuran kecil sebanyak 8 ekor atau 6 ekor maskoki berukuran sedang. Bila akan memelihara maskoki berukuran besar, dapat dimasukkan 3 ekor, sedangkan maskoki berukuran extra large (10—12 cm) cukup satu ekor saja. Jika mau memeihara seekor maskoki yang berukuran jumbo (14—15 cm) harus menggunakan akuarium berukuran 80 cm x 40 cm x 37 cm. Selain itu, akuarium persegi empat sangat sesuai untuk memelihara maskoki yang tubuhnya berbentuk bulat panjang.
Strain maskoki yang cocok dipelihara di dalam akuarium adalah maskoki yang keindahan warna dan keunikan tubuhnya cenderung dinikmati dan sisi samping (side view) sepertired-white tossa, panda dragon eyes, chocolate oranda red pompom, red cap oranda, red-white ranchu, dan big head pearlscale combination colour.
Wadah yang cocok untuk pemeliharaan maskoki selain akuarium yaitu kolam bak semen, bak fiberglass, dan kontainer kecil yang terbuat dan plastik. Adapun ukuran dan bentuk kolam bak semen disesuaikan dengan luas tanah yang akan digunakan. Untuk pemeliharaan maskoki berukuran extra large sampai jumbo dengan jumlah 10-15 ekor dibutuhkan kolam berukuran 200 cm x 300 cm dengan kedalaman air 15 cm. Bila menggunakan baik fiberglass berukuran 100 cm x 150 cm x 40 cm, dapat untuk memelihara maskoki ukuran large sebanyak 10—12 ekor. Bila memilih kontainer kapasitas 70 liter cukup diisi tiga ekor maskoki berukuran large atau satu ekor maskoki berukuranextra large dan jumbo. Tidak ada strain maskoki yang khusus dipelihara di dalam bak/kolam. Akan tetapi, bila keindahan warna dan keunikan bentuk fisiknya terletak pada bagian atas maka bak atau kolam dapat dipilih untuk wadahnya. Strain maskoki yang keindahaimya cenderung dinikmati dan posisi atas (top view) antara lain strain ranchu (seperti red-white ranchu), strain bubble eyes, dan strain butterfly.
Sarana pendukung utama yang harus disediakan di dalam akuarium di antaranya aeratoratau blower yang berfungsi sebagai pemasok oksigen ke dalam air. Selain itu, juga disediakan silkulator (aquarium liquid filter) yang berfungsi ganda sebagai penyaring kotoran dan pemasok oksigen. Sarana pendukung lain yang juga berfungsi sebagai alat pembersih kotoran yaitu selang penvifon dan serokan. Sementara sarana pendukung lain yang tidak kalah pentingnya adalah lampu UV (ultra violet biolite) yang berfungsi sebagai penerang, terutama pada malam hari. Gunakan lampu UV 10 watt untuk akuarium berukuran 60 cm x 30cm x 35 Cm dan berukuran 80 cm x 40 cm x 37 cm, serta kontainer mini berkapasitas 70 liter. Untuk bak fiberqlass 100 cm x 150 cm sebaiknya dipasang lampu 25 watt. Sementara untuk kolam berukuran 200 cm x 350 cm x 50 cm, lampu yang digunakan UV 40 watt. Patut diketahui, lampu neon memancarkan cahaya yang tidak menimbulkan panas sehingga tidak meningkatkan suhu air.
Sumber :
Nurleli, 2011. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Ikan Maskoki. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Nomor: 012/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan BPSDMKP.
Adijaya, S.Dian, “Agar Kemolekannya Dinikmati Lebih Lama”, Trubus, Agustus 2003.
_____________, “Merah Putih Corak Ranchu”, Trubus, Juli 2003
_____________, “Strain Terbaru dari Tirai Bambu”, Trubus, Agustus 2003.
Hisomudin, dkk., “Permasalahan Maskoki dan Solusinya”, Penebar Swadaya, 2003
Suyanto, S.Rachmatun, “Parasit Ikan dan Cara Pemberantasannya” (Jakarta : Pusat Penerbitan Yayasan Sosial Tani Membangun, 1981).

Jumat, 01 Juni 2018

BUDIDAYA IKAN MAS


Budidaya ikan mas (Cyprinus carpio L.) telah lama berkembang di Indonesia. Selain mudah juga peluang usaha ikan mas cukup menjanjikan. Permintaan pasarnya tinggi, namun pasokan rendah. Keadan ini menjadikan harga ikan mas cukup menguntungkan. Budidaya ikan mas dilakukan dalam beberapa tahapan.

Pematangan Gonad di kolam tanah

Pematangan gonad ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 200 kg induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari.

Pematangan di kolam air deras
Pematangan gonad juga bisa dilakukan di kolam air deras. Caranya, siapkan kolam air deras ukuran 30 m2; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 60 – 80 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 kg induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari. Catatan : induk jantan dan betina dipelihara terpisah.

Seleksi
Seleksi induk dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut, gerakan lamban, lubang kelamin kemerahan dan berukuran 2 – 3 kg. Tanda induk jantan : gerakan lincah, keluar cairan putih susu bila dipijit lubang kelaminnya, dan berukuran antara 0,7 – 1,0 kg.

Pemijahan dan Penetasan di kolam tanah
Pemijahan ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 12 m2; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu; pasang hapa ukuran panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m; pasang 10 buah kakaban; masukan 2 ekor induk betina; masukan pula 4 – 6 ekor induk jantan; biarkan memijah; setelah memijah ambil induk jantan dan betina; biarkan telur menetas di tempat itu.

Pemijahan dan Penetasan di bak
Pemijahan juga bisa dilakukan di bak. Caranya : siapkan bak ukuran 12 m2; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu; pasang hapa ukuran panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m; pasang 10 buah kakaban; masukan 2 ekor induk betina; masukan pula 4 – 6 ekor induk jantan; biarkan memijah; setelah memijah ambil induk jantan dan betina; biarkan telur menetas di tempat itu.

Pendederan I
Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 100.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; setelah 2 minggu, sebar ke kolam lain bila penuh; panen setelah berumur 3 minggu.

Pendederan II
Pendederan kedua dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 40.000 ekor (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen setelah berumur sebulan.

Pendederan III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam; panen setelah berumur sebulan.

Pembesaran di kolam tanah
Pembesaran ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 1.000 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 100 kg benih hasil seleksi; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 400 – 500 kg.

Pembesaran di kolam air deras
Pembesaan ikan mas bisa dilakukan di kolam air deras (KAD). Caranya, siapkan sebuah kolam air deras ukuran 30 m2; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 60 – 80 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 kg induk; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam air deras dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1 – 1,5 ton.

Pembesaran di kolam jaring apung
Pembesaan ikan mas bisa juga dilakukan di kolam jaring apung (KJA). Caranya, siapkan sebuah kolam jaring apung lapis pertama; masukan 300 kg induk; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam jaring aung dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1,5 – 2 ton.

SUMBER:
http://bdp-unhalu.blogspot.com
http://agusrochdianto.wordpress.com
http://ebookbrowsee.net